Beranda > Akhlak > kehebatan zidane, dahsyat!

kehebatan zidane, dahsyat!

Tulisan Sindhunata di Kompas, 7 Juli 2006, tulisan ini dibuat menjelang pertandingan Final Piala Dunia 2006 antara Italia vs Perancis

Adalah seorang lelaki tua, Melkisedek namanya. Pada anak gembala yang sedang mencari harta karun itu, ia berpetuah tentang takdir manusia. Dan beginilah Paulo Coelho menuliskan petuah tersebut dalam bukunya, The Alchemist, yang terkenal itu.

Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka….” Lalu Melkisedek berpesan, satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. “Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya,” katanya.

Petuah Melkisedek itu berlaku untuk siapa saja, juga untuk pemain bola. Dan jika pada zaman ini ada pemain bola yang telah melengkapi takdirnya, maka ia adalah Zinedine Zidane. Seperti anak gembala yang terlunta-lunta memburu harta karun dalam novel The Alchemist itu, Zidane juga harus melalui jalan yang penuh duri untuk melengkapi takdirnya sebagai pemain bola.

Ia adalah anak imigran miskin yang hijrah dari Afrika Utara. Sesampainya di Perancis, mereka tinggal di La Castellane, sebuah tempat tanpa harapan, terletak di pinggiran Marseille. Di tempat itulah Zidane kecil bermain bola. Ia bermain di jalanan, gawangnya ditandai dengan batu atau baju. Siapa yang menang memperoleh piala dari gelas plastik.

Zidane bilang, di antara teman bermainnya, ia bukanlah yang terbaik. Namun, ia dikenal tekun dan tak pernah menyerah. “Ketika teman-teman sudah pulang ke rumah, saya masih mempelajari trik-trik bola dengan kaki saya,” kata Zidane mengenang masa kecilnya…. “Apa yang sekarang saya bisa lakukan di lapangan, itu semuanya telah saya pelajari dulu di jalanan,” katanya menambahkan.

Umur 13 tahun, Zidane, anak bungsu itu, ditemukan oleh Jean Varraud, pemandu bakat AS Cannes. Ia harus berpisah dari orangtuanya. Hari-hari pertama dilewatkannya dengan tangis karena ia rindu akan rumahnya. Umur 16, ia sudah menjadi profesional di Bordeaux, sebelum ia ke Juventus, Turin.

Puncak permainan
Menjelang melawan Spanyol ia mendengar kabar, Jean Varraud meninggal dalam usianya yang ke-85. “Saya menjadi seperti sekarang karena Varraud,” kata Zidane. Maka kematian Varraud adalah berita sedih baginya. Tetapi justru di tengah kesedihan itu, Zidane memperlihatkan puncak permainannya. Pujian datang bertubi-tubi kepadanya. Apalagi ketika Perancis mengalahkan Brasil.

Zidane adalah magi bagi kesebelasan Perancis, lebih-lebih ketika mereka berada dalam keadaan kritis. “Ia bukan pemain bola, ia adalah keberuntungan,” kata Laurent Blanc, mantan pemain Perancis. “Ia seperti tidak datang dari dunia ini,” kata Aimé Jaquet, mantan Pelatih Perancis. “Ia seperti dewa, ia bermain bola dengan kemolekan seorang balerina,” puji David Beckham.

Melawan Brasil, Zidane memperlihatkan diri sebagai “penguasa lapangan tengah sejati”. Bola melekat di kakinya. Dan dengan sentuhan satu-duanya, bola mau saja menuruti ke mana Zidane menghendaki takdirnya. “Itulah permainan hidupnya,” puji koran L’Equippe. Bola dan kaki Zidane seakan memperagakan kata-kata ini, pulchrum est quod visu placet, apa yang indah adalah apa yang menyenangkan pada pandangan mata.

Zidane telah melengkapi takdirnya sebagai pemain bola. Tak hanya itu, ia juga telah menjadi “Melkisedek Bola”. Selepas pertandingan Brasil melawan Perancis, ia mengusap pipi Lucio dan mengelus-elus rambut Ze Roberto yang terkapar di rumput. Seakan ia hendak menghibur pemain Brasil itu, bahwa kekalahan adalah duri yang memang harus dilalui oleh pemain bola. Lalu si kecil Robinho merangkul lehernya, seperti “anak kera yang tak mau berpisah dari ibunya”. Kepada Zidane, rekan seklubnya di Real Madrid, si kecil Robinho melihat teladan yang meneguhkan, yakni bahwa masih sangat panjanglah jalan untuk melengkapi takdirnya sebagai pemain bola.

Zidane adalah pemain bola hebat. Tetapi ia dikenal sebagai pribadi pendiam dan rendah hati. Tak heran, bukan hanya kawan, tetapi lawannya pun amat menghormatinya.

“Tak mungkinlah jika orang tidak mencintainya,” kata Marcello Lippi.

Melebihi pemain muda
Tiga puluh empat tahun bukan lagi usia muda bagi pemain bola, apalagi untuk pemain lapangan tengah. Tetapi Zidane memperlihatkan, di usia tersebut ia masih dapat bermain dengan ideal, melebihi pemain-pemain muda. Pada Zidane, memancar kebenaran kata-kata Albert Schweitzer, dokter pencinta kemanusiaan itu. Kata Schweitzer, orang tidak menjadi tua karena bertambahnya usia, tetapi karena ia menyerah dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya. Ia tidak menjadi tua karena kisut kulitnya, tetapi karena meringkus jiwanya.

Maka, kata Schweitzer lagi, kamu akan muda semuda kepercayaannya, dan kamu akan tua setua keraguanmu. Kamu akan muda semuda harapanmu, dan kamu akan tua setua keputusasaanmu. Maka sejauh keindahan, kegembiraan, keagungan dunia, manusia dan Tuhan merambati hatimu, kamu akan tetap tinggal muda selamanya.

Zidane telah menyatukan harapan, keindahan, dan keagungan jagat bola ke dalam dirinya. Karena itu ia tetap muda dalam permainannya kendati sudah tua usianya. Namun, seperti dikatakan dalam The Alchemist, dengan berlalunya waktu, akan datang daya misterius yang meyakinkan, bahwa mustahil orang bisa mewujudkan takdirnya. Zidane pun tahu akan hal itu. Karena itu ia sadar, inilah hari-hari terakhir ia menggenapi takdir bolanya. Ia menangis ketika mengucapkan kata-kata perpisahan di Real Madrid. Dan kini mungkin publik bola dunia akan menangis karena kepergiannya.

M.F.R

Iklan
Kategori:Akhlak
  1. daris marijan sayyaf
    Mei 18, 2010 pukul 11:12 pm

    rindu permainan Zidan di lapangaaaaannn…
    Zidan tak kan pernah terganti oleh siapapuuuunnn…..!

    • anggit dwipramana
      September 7, 2010 pukul 3:06 am

      yup.. tapi skrg, banyak pemain yang punya karakter permainan ok2 🙂

  2. April 13, 2010 pukul 12:55 am

    Zidane tetap yg terbaik permainannya.Pemain yg lengkap

    • anggit dwipramana
      September 7, 2010 pukul 3:04 am

      bener2…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: