Beranda > Energi, Lingkungan Hidup > Industri Bioetanol (Fuel Grade) Jalan di Tempat

Industri Bioetanol (Fuel Grade) Jalan di Tempat

Untuk memacu penggunaan bioetanol itu, pemerintah seharusnya segera mengambil langkah mengalihkan subsidi BBM ke subsidi bioetanol atau bahan bakar nabati. Dengan cara ini, akan memicu produksi dan penggunaan dalam negeri.

Pertumbuhan industri bahan bakar nabati di Indonesia saat ini nyaris jalan di tempat. Padahal pemerintah telah memberikan dorongan perkembangan industri bahan bakar nabati ini melalui Permen ESDM No 32/2008 tentang Mandatory Bahan Bakar Nabati.

Esensi peraturan Menteri ESDM adalah kewajiban bagi campuran bahan bakar nabati dengan persentase tertentu bagi sektor transportasi mulai 2009.

Dalam peraturan tersebut disebutkan untuk sektor transportasi maka premium harus dicampur dengan 3% bioetanol, sedangkan solar untuk industri harus dicampur dengan biodiesel 2,5%, dan transportasi solar harus dicampur dengan biodiesel 1%.

Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Prof Jumina, mengemukakan, Permen ESDM itu hingga saat ini masih belum bisa

secara efektif dan belum bisa direalisasikan. Menurut dia, permasalahan utamanya adalah produksi bahan bakar nabati sampai saat ini masih belum mencukupi untuk bisa menopang kebijakan itu.

Dengan tingkat konsumsi premium sebesar 48 juta kiloliter per tahun, bioetanol yang diperlukan adalah 1,44 miliar liter. Padahal, jumlah produksi bioetanol dalam negeri saat ini baru mencapai 240 juta liter per tahun atau hanya memenuhi 17% dari kebutuhan.

“Dengan adanya defisit sebesar 1,2 juta liter tentunya akan sulit bagi pemerintah untuk menjalankan Permen ESDM itu,” ujarnya.

Tidak berkembangnya industri bioetanol dalam negeri untuk bahan campuran bagi bahan bakar itu, ujarnya, salah satunya disebabnya tingginya harga bioetanol di pasaran dibandingkan dengan BBM. Jumina menyebutkan bioetanol dengan kadar 95% saat ini dijual dengan harga Rp8.500 per liter.

Sedangkan yang bisa dipergunakan untuk campuran bahan bakar adalah bioetanol dengan kadar 99%, di pasaran dijual dengan harga Rp11.000 per liter.

“Bahkan realisasinya bisa mencapai Rp30.000 per liter karena ada kewajiban cukai sebesar Rp21.000 per liter,” ujarnya.

Dengan harga Rp11.000 per liter tanpa kewajiban cukai saja, imbuhnya, harga bioetanol sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga premium

atau solar di SPBU. “Bisa dipastikan bioetanol tidak bisa bersaing dengan solar atau premium bahkan dengan pertamax sekalipun,” tegasnya.

Di sisi lain dengan tingkat harga yang menjanjikan itu, produsen bioetanol dalam negeri tidak memproduksi bioetanol untuk dalam negeri, namun lebih memilih untuk penjualan ekspor. (Media Indonesia 12042011)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: