Beranda > Buah Pikir, Islam, Sosial Politik > TKI di Arab Saudi dalam Perspektif Perbudakan

TKI di Arab Saudi dalam Perspektif Perbudakan

Sungguh malang nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita yang bekerja di Arab Saudi. Mereka mengalami berbagai kasus kekerasan yang begitu mengerikan, khususnya di sektor pembantu rumah tangga. Data dari LSM Migrant Care, hingga Oktober 2010, kekerasan terhadap TKI di Arab Saudi mencapai 5.336 kasus. Data versi Kompas (2010), kasus kekerasan TKI di Arab Saudi berada pada angka 22.035 kasus. Jumlah kasus kekerasaan ini merupakan terbanyak kedua setelah kasus kekerasan TKI di Malaysia.

Kekerasan yang terjadi terhadap para TKI di Arab Saudi ini erat kaitannya dengan faktor budaya. Menurut Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH. Hasyim Muzadi, faktor budaya bangsa Arab sulit mencegah tindak kekerasan dan kekejaman pada kaum minoritas, khususnya kekerasan yang dilakukan seorang majikan kepada Pembantu rumah tangga atau PRT. Menurut Beliau, kebiasaan majikan laki-laki dalam memperlakukan PRT secara tidak senonoh mengakibatkan kecemburuan majikan perempuan yang berujung pada tindak kekerasan dan penyiksaan.

Hal ini sejalan dengan adanya pandangan berbagai ahli yang menyebutkan bahwa sebagian kalangan masyarakat Arab Saudi masih menganggap PRT atau TKI ini sebagai budak. Seorang budak yang mereka miliki dapat diapakan saja sesuka hati mereka. Hal ini tidak terlepas dari historis bangsa arab yang begitu panjangnya mengalami zaman perbudakan. Dan kenyataannya kultur – kultur perbudakan tersebut, masih berbekas sampai di zaman modern seperti sekarang ini.

Sejarah Perbudakan

Mengutip pernyataan Ustadi Hamsah (2011), perbudakan bukanlah hal yang baru dalam sejarah manusia, tetapi sepanjang usia manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan, manusia memiliki kecenderungan “homo homini lupus” yang artinya hasrat menguasai yang lain. Fenomena perbudakan muncul sejak 5300 SM pada masa kejayaan bangsa Sumeria Kuno. Hal yang serupa terjadi pada bangsa Mesir Kuno, Akadia dan Assiria. Bukti fenomena perbudakan di zaman sebelum masehi ini terdapat dalam Hukum Hammurabi (1760 SM).

Di masa Yunani Kuno (abad VII SM) perbudakan tercatat cukup jelas di Kota Spartha dan Athena. Kedua kota tersebut dikatakan dalam sejarah sebagai kota yang bergantung pada perbudakan yang diperoleh dari peperangan. Masyarakat yang dirampas dari suatu bangsa terjajah di masa tersebut akan dijadikan sebagai budak. Definisi budak di kota spartha dan athena lebih mengarah kepada “pelayan dan hamba” bagi majikannya. Budak ini biasa dipekerjakan di sektor pertanian yang menjadi sokoguru perekonomian Bangsa Spartha. Selain itu, budak di kota tersebut dijadikan pekerja dan bahkan sebagai korban untuk persembahan kepada dewa mereka.

Sama halnya dengan Spartha, di Kota Athena budak diperlakukan sebagai pelayan atau hamba dan terkadang diperlakukan lebih buruk. Budak tidak memiliki hak-hak sebagai seorang manusia utuh. Mereka berada di bawah pengawasan majikan mereka, sehingga nasib budak sangat tergantung pada hubungan baik dengan majikan. Budak di kota ini, rata-rata bekerja di sektor pertambangan. Hal ini berlangsung sampai perpindahan kekuasaan ke era Romawi Kuno.

Pada masa Romawi Kuno, perbudakan terjadi secara besar-besaran dimana pada budak didatangkan dari negara-negara jajahan di seluruh Eropa dan Mediterania. Mereka dipekerjakan di berbagai sektor seperti peternakan dan pelayan rumah tangga. Nasib para budak di era ini sangat tertindas, di samping untuk tenaga kerja, mereka juga dijadikan objek hiburan sebagai gladiator dan pekerja seks untuk tentara dan warga Romawi.

Praktik perbudakan berlanjut ke abad pertengahan di Eropa, dimana perbudakan terjadi secara besar-besaran ketika Bangsa Viking menaklukan sebagian Eropa. Di benua biru ini, perbudakan mengalami puncaknya ketika masa kolonialisme dan imperialisme. Bangsa-bangsa eropa menjadikan bangsa Asia, Amerika dan Afrika menjadi budak-budak pekerja untuk kepentingan mereka di wilayah jajahan.

Perbudakan di Era Islam

Seperti diketahui, Islam pertama kali berkembang di negara Arab Saudi yang pada saat itu juga mengenal sistem perbudakan. Ajaran islam melalui Al-Quran, memberikan paparan mengenai fenomena perbudakan dan memberikan sikap moral untuk memperlakukan budak dengan baik tidak seperti era-era sebelumnya. Mengutip perkataan Ustadi Hamsah (2011), paparan dalam Al-Quran tersebut bukan menguatkan posisi budak dalam Islam, tetapi lebih kepada penggambaran yang terjadi di masyarakat yang dihadapi Rasul Muhammad SAW yang masih menganut sistem perbudakan.

Ajaran islam melalui Rasul Muhammad SAW mengajarkan untuk memerdekakan budak. Hal ini berlaku pula pada era-era setelahnya. Beberapa ajaran islam yang terkait dengan hal tersebut antara lain:

  1. Pada hukum denda untuk menebus kesalahan, islam memerintahkan untuk memerdekakan budak, seperti kafarat sumpah
  2. Dijadikan Ar-Riqab sebagai salah satu penerima zakat. Ar-Riqab didefinisikan sebagai orang yang memerdekan budak. Dalam hal ini, islam terlihat sangat mengapresiasi orang yang memerdekan budak.
  3. Salah satu bentuk denda untuk tindakan dosa tertentu adalah memerdekan budak.
  4. Islam mengajarkan persamaan derajat manusia dan yang membedakan hanyalah ketakwaan.
  5. Al-Quran memuji budak hitam yang beriman dibandingkan dengan wanita cantik tetapi kafir.

Dari berbagai ajaran di atas terlihat bahwa islam tidak membenarkan perbudakan melainkan berusaha untuk melepaskan perbudakan. Islam turun saat perbudakan itu ada, dan oleh karena itu Al-Quran memberikan jawaban-jawaban bagaimana menghadapi perbudakan.

Sebagian masyarakat di negara Arab Saudi yang notabenenya merupakan negara Islam telah banyak melakukan pelanggaran terhadap ajaran islam itu sendiri. Ketidakpahaman sebagian muslim Arab Saudi terhadap ajaran islam menjadikan mereka masih melakukan praktik-praktik perbudakan secara disengaja maupun tidak. Faktor budaya mungkin menjadi faktor utama yang menyebabkan hal ini. Selama beratus-ratus tahun masyarakat arab telah mengenal perbudakan dan ketika islam datang secara sadar atau tidak mereka masih mewarisi budaya tersebut.

 

Solusi atas “Perbudakan” TKI di Arab Saudi

Negara Indonesia bukanlah negara jajahan manapun termasuk Arab Saudi. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia sudah sepantasnyalah bukan merupakan budak bagi bangsa manapun. Hal ini yang harus disadari oleh para masyarakat di negara-negara tujuan TKI, seperti Arab Saudi, Malaysia, Hongkong, Taiwan, dsb. Para TKI-TKI yang bekerja di negara-negara tersebut harus diberikan hak-hak manusia yang utuh dan dilindungi dari segala macam praktik perbudakan.

Khusus untuk negara Arab Saudi yang notabene merupakan negara islam, permasalahan ini harus menjadi salah satu perhatian pemerintahan mereka. Meskipun saat ini telah dilakukan proses kesepahaman antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia terkait dengan perlindungan TKI di Arab Saudi, hendaknya dilakukan pula proses kesepahaman antara Majelis Ulama Indonesia dan Majelis Ulama Arab Saudi. Majelis Ulama Indonesia harus berkomunikasi secara intens dengan Majelis Ulama Arab Saudi untuk menyamakan persepsi hukum-hukum islam dalam memperlakukan TKI. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi masyarakat muslim Arab Saudi yang memiliki pandangan TKI sebagai budak karena telah mereka beli dengan harga yang cukup tinggi.

Harapan besar kini tertuju pada kedua pemerintah untuk memperjuangan hak-hak asasi para pahlawan devisa Indonesia yang mencari nafkah di negeri Orang. Harapan-harapan pribadi dan keluarga para TKI yang besar untuk merantau, semoga dimudahkan dengan pelurusan pemahaman persepsi perbudakan dan adanya perlindungan yang kuat dari kedua pemerintahan.

Iklan
  1. Palem
    Juni 25, 2016 pukul 2:19 am

    Islam tidak melarang perbudakan justru melegalkan coba anda sebutkan ayat mana atau hadist apa yang melarang perbudakan ?!

    Pembebasan budak itu sebagai hukuman akut terhadap tuannya yang melanggar aturan yg ditetapkan seperti halnya mencuri dipotong tangannya so tuan mana yang mau budaknya dilepas sperti halnya orang mana yg mau tangannya dipotong so mudah2an paham maksud saya

    Justru boleh punya budak bebas memperlakukannya termasuk menyetubuhinya

    4.3 Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

    Artinya muslim kalau ga mampu punya 4 istri boleh 1 saja & boleh menyetubuhi budak2nya.

    Muhammad sendiri pun hingga akhir hayatnya selain punya banyak istri juga punya buanyak budak selain hasil jual beli salahsatunya juga hasil rampasan perang atau tawanan perang yang tidak ditebus musuhnya.

    Setelah mendapat desakan dunia internasional perbudakan di arab baru bisa dilarang thn 1967 so artinya baru kemarin wajar kalau TKW Indonesia di arab banyak diperlakukan sperti budak karna dunia arab/islam baru mengenal nilai2 kemanusiaan yg universal.

  2. slamet
    September 13, 2013 pukul 4:23 pm

    kbnyakan diarab itu TKW dan myoritas jdi PRT..
    sbnernya para TKW itu hrusnya tw bhwa wanita yg pergi jauh tnpa didampingi muhrimnya itu sbnrnya haram,, pantesan lah mreka org2 diarab saudi menganggap tkw2 diIndonesia itu sbg budak cz pastinya mreka mnganggap tkw2 diIndonesia itu org trlantar ‘n sah djadikan budak..
    harusnya pnyalur2 itu tw donk hkum tntang islam,, wong dsana jg kn negara islam..

  3. adhies
    April 15, 2012 pukul 6:43 am

    Alangkah baik nya apabila ada kekerasan pda TKI/TKW kalau majikannya tdk dpt d usut baiknya sponsor dan PT nya di usut smpai tuntas biar mnjadi tenang kpda pihak keluarga.ok..yes ok………..

  4. ahmad fadli azami
    Januari 15, 2012 pukul 12:32 am

    yang menjadi prinsip: kesadaran semua pihak. agar tidak jatuh pada lubang yang sama.

    • Anggit Dwipramana
      Maret 7, 2012 pukul 7:25 pm

      ya betul pak. namun perlu awareness dari setidaknya 3 pihak: 1. TKI nya sendiri 2. Pengelola tki 3. Pemerintah kita.

      • Januari 24, 2013 pukul 5:27 pm

        Saya setuju dengan pendapat anda, sepenuhnya setuju. Hasil penelusuran saya, penindasan tidak selalu berarti tidkana fisik, di beberapa negara, majikan berlaku seakan baik, tapi pelarangan ibadah (shoalt, puasa) dan pemberian kevbebasan berlebih atas arus informasi hiburan adalah bentuk lain penghancuran moral atas bangsa kita.

  5. psuch
    Januari 5, 2012 pukul 3:48 am

    Pemerintah harus bersikap tegas terhadap Negara yang melakukan kekerasan terhadap TKI, khususnya kedubes Indonesia yang ada diluar negeri. Harus bersikap tegas, dan melindungi WNI yang ada di disana. Jangan sampai TKI-TKi kita diperlakukan seenaknya seperti binatang. Kalau mereka tidak menanggapi/respon dari pemerintahan indonesia kita harus menarik keluar TKI-TKi kita yang ada diIndonesia agar tidak makan Korban lagi.

    • Anggit Dwipramana
      Maret 7, 2012 pukul 7:27 pm

      sepakat.

  1. Januari 4, 2012 pukul 5:50 am
  2. Januari 4, 2012 pukul 5:47 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: