Arsip

Archive for the ‘Akhlak’ Category

Susahnya pergi ke Amrik: 4 Mahasiswa ITB gagal ikut HNMUN

Februari 11, 2009 3 komentar


Saya tergelitik membaca berita ini. Ternyata ganti presiden belum bisa menjadikan USA bersikap objektif dan adil. Seperti informasi yang saya peroleh dari koran republika Kedutaan Amerika, hingga saat ini ternyata masih phobi dengan nama orang Indonesia yang berbau Islam dan kearab-araban. 4 orang mahasiswa ITB (teman saya) yang sedianya akan berangkat sebagai delegasi pada acara Harvard National Model United Nation (HNMUN)ditahan visa-nya hanya gara-gara nama atau pun tampang mereka yang berbau Islam. Keempat orang yang gagal berangkat adalah Misykat Fahada Mochamad Nur karena nama, Demi Tristian ditolak karena dalam pasportnya belum pernah keluar negeri, Ferdinand Petrik Pratama dan Novi gagal pergi karena alasan lain bukan visa. Sementara, Tizar MK Bijaksana, awalnya menggunakan janggut tapi akhirnya bisa memperoleh visa dan pergi ke Boston setelah janggutnya dicukur.

Kata dosen pembimbing mereka, Pak Dermawan, Semua mahasiswa, untuk memperoleh visa hanya di wawancarai sekitar 5 menit. Namun, empat orang tidak memperoleh visa. Selain karena namanya berbau Islam, juga dilihat dari tampang dan ada mahasiswa yang berjanggut jadi susah memperoleh visa. Tapi alhamdulillah 2 orang akhwat yang berjilbab tidak dipermasalahkan. Mungkin mereka (kedubes AS) phobia dengan laki-laki yang lebih cenderung jadi teroris (^_^).

Amerika Serikat yang katanya mbahnya demokrasi malah mendiskrimasikan orang lain. Katanya memegang prinsip bahwa semua manusia memiliki kebebasan yang sama, tapi ternyata mereka malah membedakan orang-orang yang identitas muslimnya kuat. Berarti mereka melanggar prinsip yang telah mereka buat sendiri. Tapi anyway, mudah-mudahan dengan dilantiknya Obama, kasus seperti ini ngga bakalan muncul lagi meskipun kecil sekali kemungkinannya.

Saya khawatir justru kalo begini terus kejadiaannya, Amrik lama kelamaan akan terpuruk. Karena bisa jadi diantara orang-orang yang mereka diskreditkan, justru akan menjadi orang hebat di kemudian hari. Dan krisis ekonomi yang saat ini sedang mereka hadapi bisa jadi juga pertanda keterpurukan tersebut. Wallahu’alam bis showab.

Musibah dalam Kaderisasi Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB: Sebuah Refleksi

Februari 10, 2009 5 komentar


Saya menyebutnya sebagai musibah. Karena kejadian yang telah kita ketahui bersama ini, bukanlah suatu kejadian yang kecil melainkan kejadian yang merenggut nyawa teman kita. Dan tentu saja kehilangan nyawa ini (nyawa seorang muslim) lebih berat dibanding hilangnya bumi dan seisinya. Rasulullah S.A.W bersabda dalam riwayat hadistnya yang terkenal,”Hilangnya
Bumi seisinya adalah lebih ringan di sisi Allah S.W.T daripada hilangnya nyawa
seorang Muslim”.

Kronologis Kejadian

Berikut kronologis kejadian yang saya kutip dari bandung.detik.com
Berikut kronologi saat Dwi melakukan kegiatan orientasi mahasiswa baru yang dianggap ilegal oleh pihak ITB, yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) di Pager Wangi, Lembang, Sabtu 7 Februari, dan Minggu 8 Februari 2009.

Kronologi ini berdasarkan hasil penyelidikan oleh Komisi Penegakan Norma Kemahasiswaan ITB.

– Sabtu, sebanyak 82 mahasiswa angkatan 2007 dikumpulkan di Lebak Siliwangi. Lalu rombongan itu diberangkatkan pada pukul 12.00 WIB dengan menggunakan angkot menuju Desa Pager Wangi, Lembang.

– Sebelum berangkat, mahasiswa diperiksa kesehatannya oleh tim medis Atlas Medical Pioneer (AMP) FK-UNPAD. Saat diperiksa, para mahasiswa dinyatakan sehat.

– Angkot yang mengangkut rombongan tiba di Lembang. Selanjutnya, para mahasiswa itu berjalan kaki sejauh 1,2 kilometer menuju lapangan II di desa Pager Wangi. Namun, saat baru berjalan 400 meter, Dwi terjatuh. Saat itu Dwi ditemani dua rekannya. Kemudian Dwi disuruh minum. Akan tetapi, Dwi diajak kembali untuk meneruskan perjalanan hingga tiba di lapangan II. Dwi terlambat 10 menit dibandingkan rekan-rekannya.

– Pukul 14.00-14.40 WIB, rombongan melakukan makan siang dan sholat.

– Pukul 15.35-18.20 WIB, perjalanan dari lapangan II dilanjutkan menuju ke Pos 1. Dwi masih bisa berjalan walau agak kesulitan. Kala itu, Dwi berjalan sambil dipapah oleh dua orang melalui jalan yang menanjak sejauh 100 meter. Saat dipapah ini, Dwi merasakan sakit di bagian punggung. Singkatnya, Dwi mampu berjalan hingga Pos 6. Ketika tiba di Pos 6, aktivitas Dwi hanya duduk dan belajar berjalan.

– Pukul 18.20-18.45 WIB, Dwi dibawa menuju Pos Atlas Medical Pioneer (AMP) dengan dipapah. Dwi mengeluh sakit di bagian pinggang kiri. Tak lama setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke lokasi terakhir di SMA Mekar Wangi.

– Pukul 19.40-20.30 WIB, Dwi pingsan dan langsung mendapat perawatan dari tim medis AMP.

-Pukul 20.30-22.10 WIB, Dwi dalam kondisi tidak bisa berdiri. Kemudian tim medis AMC membalurkan pakai kayu putih. Dwi sempat dirangkul untuk berdiri dan duduk kembali.

– Pukul 00.00 WIB, Dwi diperiksa tim medis dan dinyatakan sehat kembali. Dwi sempat ditinggal sendirian. Lalu, panitia menanyakan kepada Dwi apakah ingin pulang. Dwi menjawab ingin pulang.

Minggu 8 Februari, dini hari :
-Pukul 01.30-02.20 WIB, Dwi sudah dalam kondisi parah. Akhirnya dirinya dibopong ke luar ruangan.

– Pukul 02.20-02.25 WIB, setelah menunggu tim medis dan kendaraan, kondisi Dwi tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Selain itu, Dwi mengeluarkan air liur dan tidak merespon cahaya. Tak lama, mobil datang. Tetapi Dwi tidak bisa masuk ke dalam mobil, karena Dwi memiliki badan yang besar. Saat diturunkan kembali, Dwi sempat buang air besar di celana dan tidak sadar. Tak itu saja, mulut Dwi pun dipenuhi busa kekuningan, nadi radialis dan karotis tidak teraba, tidak bernapas dan suhu dingin. Tim medis hanya memberikan nafas buatan dan pijat jantung.

– pukul 03.15 WIB, Dwi tiba di RS Borromeus dengan menggunakan mobil pick-up. Namun
sayang, Dwi sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Kaderisasi Kemahasiswaan ITB

Saya sebagai mahasiswa ITB terus terang kaget dengan kejadian ini. Terus terang kejadian ini adalah satu-satunya kejadian yang menimbulkan korban jiwa selama saya kuliah (tahun 2005) hingga sekarang. Memang dari pertama kali merasakan kaderisasi (OSKM 2005) saya sudah “mencium” stigma-stigma negatif terkait dengan kaderisasi kemahasiswaan di ITB. Informasi dari teman dan saudara yang saya dengar tentang kerasnya kaderisasi di ITB sudah diperoleh sejak awal masuk ITB. Tapi kenyataannya, hal tersebut tidak benar seutuhnya. OSKM 2005 yang saya ikuti sama sekali tidak merujuk pada perpeloncoan ataupun kekerasan. Seluruh kegiatan berorientasi pada pembelajaran. Kemudian kaderisasi berlanjut ke jenjang himpunan. Himpunan saya, HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) merupakan himpunan yang “damai”. Walaupun kaderisasinya cukup lama, sekitar 3 bulan, kami sama sekali tidak mendapatkan kekerasan sedikitpun. Justru saya merasakan pihak panitia dan program studi memberikan banyak manfaat dan fasilitas yang luar biasa bagus. Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman diberangkatkan ke depo pendidikan TNI di lembang, Bandung. Acara yang pada awalnya ditujukan untuk melantik kami, penuh dengan kegiatan yang bermanfaat. Outbond, simulasi, psikotest, acara keakraban dan lain-lain. Dan yang mengejutkan adalah kami malah dikasih makanan yang high quality ^_^. KFC, pepsi, nasi komplit, pokoknya empat sehatlah. Selidik punya selidik ternyata acara ini didukung penuh oleh program studi. Artinya seluruh dana ditanggung oleh Prodi kami. Yah, sedikit tradisi himpunan memang ada. Agak aneh memang, tapi it’s ok, no problemo. Yang jelas kami sedikitpun tidak mengalami kekerasan fisik seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Maksud kekerasan fisik seperti dipukul, dan sejenisnya.

Secara umum memang sejak tahun 2005, ITB dan seluruh civitas akademiknya sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam kaderisasi kemahasiswaan. Kekerasan yang menjadi tradisi di himpunan memang ada sejarah dan latar belakangnya. Kurang lebih budaya atau tradisi semacam ini dilahirkan sejak adanya pendudukan militer di kampus ITB. Jadi mungkin saja, kaderisasi yang keras semacam itu dilakukan untuk melatih fisik dan mental mahasiswa ITB dalam upaya menghadapi militer. Itu dulu, kemudian apakah masih bentuk kegiatan semacam itu masih perlu diberikan setelah era pendudukan militer berakhir? Nah tentu saja tidak. Tapi masalahnya lain, ternyata kegiatan semacam itu disinyalir mampu menyolidkan peserta kaderisasi (mahasiswa). Ada sindrom senasib sepenanggungan. Kegiatan semacam itu diharapkan menjadi kenangan indah ketika sudah lulus nantinya. Hal ini mungkin yang menjadi latar belakang teman-teman melakukannya.

Namun, semakin lama kegiatan semacam itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi di awal tahun 2000-an muncul kasus kekerasan IPDN yang menjadi buah bibir masyarakat. Hal inilah yang kemudian menggugah teman-teman mahasiswa untuk kembali mengkaji konsep kaderisasi mereka. Hal ini pula yang mendorong penghapusan kegiatan sejenis perpeloncoan di ITB sejak tahun 2005. Rektorat lebih ketat dalam mengawasi kegiatan kaderisasi ini. Puncaknya adalah pada tahun 2006. Dimana OSKM 2006 yang menjadi pintu gerbang kaderisasi kemahasiswaan ITB dilarang oleh pihak rektorat. Akibatnya, peserta OSKM 2006 ini terbilang sedikit. Hanya kurang lebih 100 mahasiswa saja. Padahal jumlah mahasiswa baru ITB sebanyak 3000-an. OSKM 2006 dinyatakan ilegal oleh rektorat. Sehingga mahasiswa baru ITB enggan untuk ikut dalam kegiatan ini. Saya merasakan betul peristiwa ini, karena turun langsung menjadi panitia OSKM 2006. Peristiwa ini kemudian yang mengharuskan seluruh organisasi kemahasiswaan ITB mengkaji ulang konsep kaderisasi mereka agar tidak dikatakan ilegal. Praktis, seluruh organisasi ini akan berhati-hati dalam mengkader mahasiswa agar tidak mengarah kepada perpeloncoan. Hal ini terbukti di lapangan. Tidak ada lagi kegiatan berisi perpeloncoan dalam kaderisasi kemahasiswaan ITB. Bahkan push-up sekalipun tidak ada atau kalaupun ada sangat sedikit yang menerapkan.

Kemudian ketika musibah yang menimpa teman-teman IMG ini muncul ke permukaan, muncul spekulasi atau gembar gembor bahwa kemahasiswaan ITB melakukan perpeloncoan. Saya katakan dan saya tegaskan bahwa hal tersebut salah besar. Seluruh himpunan, unit dan organisasi kemahasiswaan di ITB lainnya tidak melakukan perpeloncoan. Kami sudah mengonsep kegiatan kaderisasi ini dengan sebaik mungkin. Tujuan yang diharapkan tentunya adalah menghasilkan kader-kader mahasiswa yang memiliki nilai-nilai luhur sesuai dengan tujuan organisasi tersebut. Dan tentunya untuk mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan, Iron stock, dan penjaga nilai (guardian of value).

Evaluasi

Ini adalah musibah, sesuatu yang tidak kita duga. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah: 155-157

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

Seperti yang kita ketahui bahwa kematian hanya diketahui oleh Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Namun tentunya kita harus senantiasa bertindak hati-hati dan berlaku amanah dalam menjalankan suatu kegiatan. Apalagi kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang beresiko tinggi seperti halnya yang dilakukan oleh teman-teman IMG.
Saya sadar, pasti ada tujuan dari kegiatan yang membutuhkan fisik kuat dalam kaderisasi mahasiswa/himpunan. Terlebih bagi jurusan yang memang berorientasi lapangan seperti minyak, tambang, geologi dan geodesi.

Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang mengutamakan keselamatan atau safety. Saya belajar banyak dari Batalyon I/ITB Resimen Mahawarman (Menwa). Dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kami selalu diharuskan untuk mengutamakan safety atau keselamatan. Saya ingat betul ketika menjalani proses kaderisasi menwa ini. Kami (peserta) dicek kesehatan dan fisik secara cermat oleh pihak yang berkompeten. Pemeriksaan kesehatan yang saya alami ternyata merupakan standar khusus bagi anggota TNI. Tidak satu atau dua menit saja cek kesehatan tersebut. Mungkin bisa memakan waktu hingga 1 jam setiap orangnya. Belum lagi dengan cek fisik. Kami dites lari dan sebagainya untuk memantau apakah fisik kami layak atau tidak untuk mengikuti kegiatan. Bagaimana ketika di lapangan? Kaderisasi yang berat tersebut menjadi nyaman saya ikuti karena saya merasa didampingi oleh pelatih. Kondisi kesehatan menjadi pertanyaan utama dalam kegiatan. Seorang peserta kaderisasi wajib melapor jika kondisinya menurun untuk kemudian dicek langsung oleh tim medis TNI yang profesional. Pokoknya saya merasa aman.
Kemudian ketika giliran saya mengkader atau menjadi pelatih. Saya dan kawan-kawan menwa diharuskan untuk memperhatikan safety. Perencanaan yang matang diikuti dengan survey lapangan yang akurat diharapkan mampu menimalisir terjadinya kecelakaan. Dan ini betul-betul saya rasakan ketika memimpin kegiatan di lapangan. Justru saya yang akan kena hukuman jika tidak memperhatikan kondisi keselamatan peserta didik. Dan masih banyak lagi pengalaman yang saya peroleh berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan yang beresiko tinggi.

Dengan pengalaman yang saya miliki tersebut saya mencoba memberikan masukan bagi teman-teman yang ingin melaksanakan kegiatan lapangan yang sejenisnya:

1. Perhatikan selalu keselamatan. Keselamatan adalah nomor satu.

2. Cek kesehatan peserta dengan secermat mungkin. Terlebih bila pesertanya lebih dari 50 orang perhatikan betul masalah ini. Lakukan walaupun membutuhkan waktu yang lama. Libatkan pula tenaga profesional

3. Rencanakan sebaik dan selengkap mungkin kegiatan tersebut. Lakukan survey lapangan dengan teliti. Pastikan titik-titik kritis yang beresiko menimbulkan kecelakaan. Kemudian siapkan pula jalur evakuasi jika ada peserta yang mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan. Periksa puskesmas atau rumah sakit terdekat.

4. Siapkan mobil ambulans untuk mengantisipasi peserta yang mengalami gangguan kesehatan. Mobil ambulans tersebut harus mengikuti rombongan peserta selama kegiatan, terlebih lagi jika mengadakan kegiatan sejenis Long March.

5. Sediakan pula tenaga medis profesional dan perlengkapan P3K yang ikut mendampingi peserta selama kegiatan.

Kelima poin di atas merupakan bagian dari tindakan safety yang saya dapatkan selama berkegiatan di menwa ITB. Alhamdulillah, selama ini kami cukup berhasil melaksanakan kegiatan-kegiatan yang notabene-nya beresiko menengah ke atas (^_^). Oiya, ada satu fakta yang menarik. Jadi suatu waktu kami menerima anggota baru. Ada seorang peserta yang sangat bersemangat untuk bergabung bersama kami. Namun sayangnya mahasiswa tersebut ditolak oleh kami. Dengan alasan kondisi fisiknya tidak layak untuk mengikuti kegiatan kami. Peserta tersebut tetap “keukeuh”/kukuh dengan pendiriannya. Dia memaksa-maksa kami agar tetap dibolehkan mengikuti kaderisasi. Sampai akhirnya komandan kami turun langsung dan memutuskan untuk tidak menerima si calon peserta ini. Suatu keputusan bijak yang sangat saya apresiasi hingga detik ini.

Finally, saya ikut mendoakan kawan kita, almarhum Dwiyanto Wisnugroho. Semoga Allah SWT mengampuni, mengasihi dan memaafkan segala kesalahannya. Amin. Dan semoga dengan adanya musibah ini, bukan malah menurunkan aktivitas kemahasiswaan kita, melainkan musibah ini menjadi cambuk bagi kita (mahasiswa) untuk meningkatkan prestasi dan kontribusi kemahasiswaan. Hidup Mahasiswa!

Berbakti kepada kedua orang tua (Birrul Walidain)

Februari 3, 2009 2 komentar

I love u mom..i love u dad

Akhir-akhir ini sering mengamati tetangga2 di deket asrama (bumi ganesha) yang sayang banget sama anaknya. subhanallah..
Mungkin perasaan seperti ini dimiliki oleh setiap orang. Misalkan aja, seorang ibu muda sedang menyuapi anaknya yang usianya sekitar 5 tahun, makan bubur ayam. Anaknya ngga mau diem..Ibunya yang repot.
Ah..jadi ingat masa kecil.. saya termasuk anak yang baik (hehe..) kalo disuapin ibu, “anteng”. Beda sama kakak yang cuman beda 20 bulan, dia ngga mau diem, jalan-jalan terus kalo makan. Jadi ibu yang repot. Ini romantika anak kecil yang ngga bisa saya lupain.

Trus saya nanya ke mas adi (senior saya di lab.)
Mas gimana birrul walidain menurut mas?kita kan udah terbilang dewasa, bagaimana sikap kita yang terbaik untuk orang tua kita yang nun jauh di sana..

beliau kemudian cerita salah seorang tabi’in. Namanya Uwais Al Qarni. kisahnya seperti ini (saya kutip dari hanafishahdan.blogsome.com):

Uwais ra. adalah pemuda dari Yaman. beliau telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Subhanallah..
sungguh kisah yang bisa kita teladani. Seorang yang berbakti dengan orang tuanya. Hingga Allah SWT menjadikan dia mulia.

saudaraku..mari berlomba-lomba untuk memuliakan kedua orang tua kita. sediakan waktu untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi. Rawat mereka apabila keadaannya seperti ibunda uwais al qarni.

UU BHP: apakah masih perlu kita kritisi? (1)

Januari 28, 2009 2 komentar

Rabu kemarin (28 Januari 2009) ada opini menarik di harian pikiran rakyat. Opini tersebut berisi tentang kontroversi UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang telah disahkan 17 Desember 2008 yang lalu. Saya tertarik dengan isi bahasannya karena alhamdulillah saya sudah lebih paham mengenai permasalahan ini.

Masih melekat di dalam pikiran saya penjelasan Dr. Irwan Prayitno (Ketua Komisi X DPR RI) dan Prof. Eko Prasojo (Guru Besar UI dan Anggota MWA UI) ketika mereka berdua berbicara di suatu seminar di jakarta. Ternyata selama ini apa yang diperjuangkan oleh kalangan mahasiswa ketika pengesahan UU BHP tidak didasari pemahaman yang benar.
Saya mengambil contoh dari arsip BHP: skenario liberalisasi pendidikan negeri ini (kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dengan dunia pendidikan indonesia) yang dikeluarkan oleh KM-ITB. Poin-poin yang dibahas pada kajian tersebut ternyata tidak merujuk pada UU BHP yang baru disahkan DPR. Poin-poin tersebut antara lain:

1. “Pada pasal tersebut (pasal 41) terlihat bahwa baik pada pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi, tetap terdapat porsi-porsi pembiayaan yang tidak ditanggung oleh pemerintah…”, “dari sinilah terbuka beberapa mekanisme usaha bagi BHP untuk memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya. Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya. Hal ini tentunya membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi pendidikan…”

Mari kita tinjau ulang poin pembahasan di atas dengan merujuk pada pasal 41 UU BHP. Berikut saya tulis ulang pasal 41 UU BHP

Pasal 41
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik, berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memberikan bantuan sumberdaya pendidikan kepada badan hukum pendidikan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(4) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung paling sedikit 1/3 (sepertiga) biaya operasional pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(5) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(6) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung paling sedikit ½ (seperdua) biaya operasional, pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(7) Peserta didik yang ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan harus menanggung biaya tersebut sesuai dengan kemampuan peserta didik, orang tua, atau pihak yang bertanggung jawab membiayainya.
(8) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan menengah berstandar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan pada BHPP atau BHPPD paling banyak 1/3 (sepertiga) dari biaya operasional.
(9) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan tinggi berstandar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan pada BHPP paling banyak 1/3 (sepertiga) dari biaya operasional.
(10) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya pada badan hukum pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jika diringkas isi dari pasal di atas dalam bentuk tabel akan tampak sebagai berikut:

Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa porsi kewajiban peserta didik (siswa dan mahasiswa) hanya diberikan pada pendidikan menengah dan tinggi. Besarnya pun dibatasi yaitu maksimal 1/3 dari biaya operasional. Menurut Prof. Eko Prasojo sebagai Anggota MWA Universitas Indonesia, jika dihitung-hitung kewajiban mahasiswa UI untuk membayar SPP setiap semesternya paling mahal hanya berkisar 900.000 ribu saja. Besar biaya ini terbilang kecil, apalagi bagi mahasiswa dari kalangan menengah ke atas.

Gambaran porsi kewajiban berbagai elemen dalam BHP ini ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Kemudian terkait dengan adanya peluang bagi institusi pendidikan untuk melakukan usaha memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya (sebesar 17%). Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya. Yang dapat membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi pendidikan, dapat dibantah dengan pasal 37 ayat 6 yang berbunyi:

Kekayaan dan pendapatan badan hukum pendidikan digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk:
a. kepentingan peserta didik dalam proses pembelajaran,
b. pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam hal badan hukum pendidikan memiliki satuan pendidikan tinggi,
c. peningkatan pelayanan pendidikan, dan
d. penggunaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Seluruh keuntungan usaha yang dilakukan oleh BHP akan digunakan untuk kepentingan pendidikan. jadi orientasinya berbeda dengan perusahaan yang mengutamakan profit. orientasi usaha yang dilakukan BHP adalah nirlaba/nonprofit.

Kita juga bisa merujuk pada pasal 43 terkait dengan badan usaha ini.

Pasal 43
(1) Badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan investasi dengan mendirikan badan usaha berbadan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk memenuhi pendanaan pendidikan.
(2) Investasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 ayat (3) dan investasi tambahan setiap tahunnya paling banyak 10% (sepuluh persen) dari volume pendapatan dalam anggaran tahunan badan hukum pendidikan.
(3) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola secara profesional oleh dewan komisaris, dewan direksi, beserta seluruh jajaran karyawan badan usaha yang tidak berasal dari badan hukum pendidikan.
(4) Seluruh deviden yang diperoleh dari badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah dikurangi pajak penghasilan yang bersangkutan digunakan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (6).
(5) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimanfaatkan untuk sarana pembelajaran peserta didik.

.

Secara umum, kita perlu membahas dan meninjau ulang pernyataan sikap yang dilakukan oleh para mahasiswa. Sebelum memberikan sikap, kita (mahasiswa) harus dengan cermat mempelajari UU BHP ini. Jangan sampai kejadian-kejadian di makassar dan kota besar lainnya terjadi kembali. Dimana mahasiswa melakukan tindakan anarkis. padahal mereka belum membaca UU ini dengan seksama.

Saya masih punya bahasan lain terkait dengan UU ini. Semoga bisa nulis lagi 🙂

Berikut saya lampirkan pula arsip-arsip yang berkaitan dengan pembahasan ini

Draft UU BHP
BHP: Skenario Liberalisasi…KM-ITB
Pernyataan Sikap KM-ITB

Kerinduan pada Kota Kembang

Januari 26, 2009 5 komentar


Baru sepekan meninggalkan kota bandung hati ini sudah rindu ingin kembali..
agak aneh memang, baru 3 tahun setengah di bandung tapi saya merasa nyaman di kota ini. kemaren pas mudik ke bogor terus dilanjutkan mengikuti seminar di jakarta yang totalnya hanya seminggu, diri ini pengennya balik ke bandung. ditambah fasilitas kampung halaman yang kurang memadai ditambah udara yang kurang bersahabat di jakarta, makin menambah kerinduan tersebut.
ada sisi lain dari kota ini, yang membuat siapapun yg pernah mengunjunginya ingin kembali. mungkin ini juga yang menjadikan kota ini banyak didatangi orang jakarta setiap week end. ditambah lagi fakta bahwa bandung juga salah satu kota pusat pendidikan di indonesia. yang dipenuhi mahasiswa-mahasiswi dari seluruh pelosok negeri ini.
semoga bandung akan tetap seperti ini..

Kategori:Akhlak, Kisah Pribadi

Ada Apa dengan Israel


Udah pada baca infopalestina.com? di sini kalian bakal nemuin artikel2 yang ngga ada di media lain. ada sisi lain yang ngga dibahas di media lain. mungkin ini bagian dari perang media. tapi insya allah media infopalestina ini, saya yakini kebenaran informasinya.

mengamati gerak-gerik israel yang menyerang sekolah, masjid (dan muslim yg sdg shalat di dalamnya), gedung pemerintahan, pemukiman, yang notabene dilarang untuk diserang, malah dihancurkan tanpa ampun. hal-hal ini yang membuat saya dan temen2 berdiskusi, kenapa ya israel melakukan itu?

kawan, bisa jadi ini salah satu indikasi kekesalan israel dan “kekalahan israel”. Mereka frustasi dalam melakukan perlawanan terhadap brigade izzudin al qassam (sayap militer hamas). penyerangan dari darat nampaknya belum dioptimalkan oleh israel. atau dengan kata lain mereka takut berperang di darat. yang mereka lakukan justru penyerangan dari udara yang bertubi-tubi dan membahayakan warga sipil.

kemudian gencatan senjata sepihak dilakukan oleh mereka (israel) walaupun cuman 10 hari.berbeda dengan hamas, mereka mengajukan syarat untuk gencatan senjata. yaitu, pencabutan blokade terhadap Gaza, pembukaan perlintasan serta penarikan penuh pasukan Israel. gencatan senjata sepihak yang dilakukan israel belum menjadi solusi. pasukan mereka masih berkeliaran di gaza.

kemudian, penyiksaan yang dilakukan oleh israel ternyata tidak hanya dengan serangan bertubi-tubi. mereka melakukan blokade dan menutup jalan keluar masuk gaza. akibatnya, bantuan sangat sulit disuplai dan korban-korban warga sipil yang terluka tidak bisa dirawat di luar gaza. blokade ini pula yang telah lama menjadikan warga gaza mengalami kelaparan, kekurangan air, dan matinya perekonomian.

kawan, inilah kebiadaban israel, lalu apa yang bisa saya dan kalian lakukan?

Ya Allah..Selamatkan saudara kami di Palestine..


Menjelang Aksi Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa RI untuk Palestina, Bundaran HI, 29 Desember 2008.

Israel yang kejam, AS salahkan Hamas, sementara PBB tak berkutik..

Seperti yang dilaporkan detik.com sebanyak 271 warga Palestina tewas dan ratusan luka-luka akibat serangan bom Israel. Meski korban tewas terus meningkat, Israel tidak menghentikan serangan. Israel kembali meluncurkan serangan udara di Gaza pada hari Minggu (28/12/2008.

Sementara itu Uni Eropa, Rusia dan Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyerukan kedua pihak segera menghentikan kekerasan. Namun, AS yang merupakan sekutu terkuat Israel mengecam kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza karena mematahkan gencatan senjata yang berakhir masa berlakunya 19 Desember lalu.

“AS mengecam keras berulangnya serangan-serangan roket dan mortir terhadap Israel dan menuding Hamas bertanggungjawab atas putusnya gencatan senjata, serta bangkitnya kembali aksi kekerasan di Gaza,” kata Menteri Luar Negeri AS segera akan mengakhiri jabatannya, Condoleezza Rice, dalam pernyataannya.

lihat kawan!
betapa kejamnya mereka, israel dan pendukung2 nya..
mereka menyalahkan muslim palestine yang lemah..
mari suarakan kebenaran!

Ayo turun ke jalan!

Ya Allah..
selamatkan saudara kami di sana..
Allahu Akbar!

%d blogger menyukai ini: