Arsip

Archive for the ‘Islam’ Category

TKI di Arab Saudi dalam Perspektif Perbudakan

Sungguh malang nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita yang bekerja di Arab Saudi. Mereka mengalami berbagai kasus kekerasan yang begitu mengerikan, khususnya di sektor pembantu rumah tangga. Data dari LSM Migrant Care, hingga Oktober 2010, kekerasan terhadap TKI di Arab Saudi mencapai 5.336 kasus. Data versi Kompas (2010), kasus kekerasan TKI di Arab Saudi berada pada angka 22.035 kasus. Jumlah kasus kekerasaan ini merupakan terbanyak kedua setelah kasus kekerasan TKI di Malaysia.

Kekerasan yang terjadi terhadap para TKI di Arab Saudi ini erat kaitannya dengan faktor budaya. Menurut Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH. Hasyim Muzadi, faktor budaya bangsa Arab sulit mencegah tindak kekerasan dan kekejaman pada kaum minoritas, khususnya kekerasan yang dilakukan seorang majikan kepada Pembantu rumah tangga atau PRT. Menurut Beliau, kebiasaan majikan laki-laki dalam memperlakukan PRT secara tidak senonoh mengakibatkan kecemburuan majikan perempuan yang berujung pada tindak kekerasan dan penyiksaan. Baca selanjutnya…

Iklan

Menegaskan Langkah Gerakan Pemuda Muslim Dalam Kerangka Ilmiah dan Spirit kebangkitan IPTEK

November 16, 2009 2 komentar

foto sobat bolangIPTEK merupakan bagian tak terpisahkan dari mahasiswa. Ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi oleh kalangan intelektual (mahasiswa). Mahasiswa memiliki kemampuan lebih dari golongan masyarakat lain dalam menyerap ilmu, mempelajari, menerapkan dan menyebarluaskannya. Lihat dalam sejarah bahwa ahli-ahli di setiap bidang dulunya adalah mahasiswa. Pemimpin-pemimpin masyarakat dulunya adalah mahasiswa. Pasti mereka belajar menempa diri terlebih dahulu sebelum menjadi orang-orang penting.

Teknologi sendiri merupakan turunan dari ilmu pengetahuan. Dari sains teknologi dikembangkan untuk memudahkan penyelesaian suatu masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia. Dengan teknologi manusia dapat hidup dengan lebih mudah dari waktu ke waktu. Lihat teknologi informasi menjadikan setiap manusia dapat mendapatkan informasi tanpa perantara manusia langsung. Cukup dengan koneksi internet atau menonton televisi. Teknologi industri menjadikan segala kebutuhan sandang, pangan dan papan manusia dipenuhi secara mudah dan murah. Dan teknologi transportasi menjadikan kita mudah mengunjungi suatu tempat dalam waktu yang lebih singkat. Dulu orang untuk naik haji membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai makkah dari Indonesia. Namun sekarang cukup beberapa jam saja muslim Indonesia dapat menunaikan ibadah haji. Baca selanjutnya…

Tolong Menolong dalam Kebaikan

Agustus 26, 2009 4 komentar


Allah SWT berfirman di dalam Al Quran“…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al Maidah: 2)

Saudaraku sekalian, ayat yang sangat indah ini merupakan penegasan perintah dari Allah SWT akan kewajiban tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta larangan untuk tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Mari kita muhasabah terkait dengan kandungan ayat ini. Tentu bagi kita yang beriman kepada Allah SWT akan langsung mengevaluasi diri. Apakah saya sudah benar-benar melaksanakan perintah Allah ini?atau malah mengingkarinya? Kita semua berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita. Dan memohon ampun, beristighfar atas maksiat yang kita lakukan di masa lalu, terlebih di bulan ramadhan dimana Allah SWT membuka pintu ampunan selebar-lebarnya.

Mari kita lanjutkan pembahasan tema ini.

Ada hal yang menarik dari firman Allah SWT yang disebutkan di awal yaitu bahwa redaksi seperti ayat ini “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa” ternyata hanya tersebut sekali dalam Al-Qur’an, sehingga ayat ini harus difahami dalam konteks umum; umum dari segi sasarannya dan umum dari segi jenis kebaikan yang dituntutnya.

Sungguh sebuah pesan universal dari Islam yang merupakan karakter dan fitrah dasarnya sebagai Rahmatan lil Alamin.

Ibnu Katsir memahami makna umum ayat ini berdasarkan redaksinya tolong menolonglah kalian bahwa Allah swt memerintahkan semua hamba-Nya agar senantiasa tolong menolong dalam melakukan kebaikan-kebaikan yang termasuk kategori Al-Birr dan mencegah dari terjadinya kemungkaran sebagai realisasi dari takwa. Sebaliknya Allah swt melarang mendukung segala jenis perbuatan batil yang melahirkan dosa dan permusuhan.

Baca selanjutnya…

Kategori:Islam

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Agustus 21, 2009 1 komentar


Alhamdulillah teman-teman, bulan ramadhan telah datang. Bulan yang dinanti-nanti seluruh kaum muslimin oleh karena keutamaannya dan keberkahannya. Tentunya salah satu alasan mengapa bulan ini dinanti-nanti adalah karena di bulan ini umat muslim diwajibkan untuk berpuasa dari sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Agar kita bersemangat menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan ini berikut penjelasan keutamaan puasa dan hikmahnya:

Keutamaan puasa:
1. Puasa tidak dapat dimasuki riya’ seperti ibadah-ibadah lain
Seperti yang kita ketahui, riya itu berarti melakukan suatu ibadah yang diperintahkan Allah,tetapi ia melakukannya bukan karena Allah, melainkan karena yang lain-lain (ingin dipuji dan sebagainya).
Penyebab puasa dikatakan tidak bisa dimasuki riya adalah karena setiap amal ibadah dapat dilihat melalui gerakan tubuh orang yang melakukannya, sedangkan puasa tidak demikian karena ia terletak pada niat pelakunya yang tidak diketahui orang lain
Al-Qurthubi menjelaskan : “Jika amal-amal lain dapat dimasuki oleh riya’, maka puasa tidak demikian. Ia tak dapat diketahui oleh secara pasti oleh selain Allah. Karena itulah Allah SWT menyandarkan puasa itu pada diri-Nya. Allah berfirman dalam hadist qudsi: “ Dia (hamba-Ku yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya karena Aku”.

Baca selanjutnya…

Kategori:Islam

Tafakur yuk..(I)

hmm..udah lama ngga ngeblog. maklum lagi sibuk nge-RP alias rancang pabrik. jadi pas ngenet agak males nulis di blog, mungkin krn sy melankolis, jadi kalo ngeblog pengennya yang bagus2 aja tulisannya. tulisan berbobot. tapi syukur alhamdulillah sekarang udah mau nulis lagi..

tadi pagi secara tak sengaja denger ceramah di radio MQ. ada ustad sholahudin dan Aa Gym tentunya. Beliau berdua memberikan materi yang mirip2 yaitu mengenai tafakur. materinya menyentuh sekali (syukron ustadz) membuat hati dan pikiran bertambah jernih. (amin)..

berbicara tentang tafakur, ayat2 di dalam al quran banyak sekali yang menyebutkan tentang aktivitas ini. salah satu yang saya hafal adalah surat al imron ayat 190-191. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

kemudian pada ayat-ayat yang lain Allah SWT banyak berfirman dengan bentuk pertanyaan “apakah kamu tidak berpikir?” seperti di surat al baqarah 44 dan al imron 65. dalil2 inilah yang seharusnya membuat kita melakukan proses tafakur.

saya punya pengalaman terkait tafakur khususnya yang berkaitan dgn ulul albab (di surat al imron : 190-191). sejak sma saya seneng kalo ada acara ke alam, rihlah (acara dkm/rohis), turun desa, kemah (bareng temen2 juga), pas orientasi siswa baru, dsb. Ada pengalaman yang masih melekat di setiap momen tersebut. Alam memberikan saya banyak inspirasi, semangat dan juga membantu saya untuk tafakur. makanya cocok banget kalo ada acara yang namanya tafakur alam, seseorang mudah diajak bertafakur ketika melihat kebesaran kekuasaan Sang Maha pencipta, Allah SWT..

Kategori:Islam, Kisah Pribadi

Berbakti kepada kedua orang tua (Birrul Walidain)

Februari 3, 2009 2 komentar

I love u mom..i love u dad

Akhir-akhir ini sering mengamati tetangga2 di deket asrama (bumi ganesha) yang sayang banget sama anaknya. subhanallah..
Mungkin perasaan seperti ini dimiliki oleh setiap orang. Misalkan aja, seorang ibu muda sedang menyuapi anaknya yang usianya sekitar 5 tahun, makan bubur ayam. Anaknya ngga mau diem..Ibunya yang repot.
Ah..jadi ingat masa kecil.. saya termasuk anak yang baik (hehe..) kalo disuapin ibu, “anteng”. Beda sama kakak yang cuman beda 20 bulan, dia ngga mau diem, jalan-jalan terus kalo makan. Jadi ibu yang repot. Ini romantika anak kecil yang ngga bisa saya lupain.

Trus saya nanya ke mas adi (senior saya di lab.)
Mas gimana birrul walidain menurut mas?kita kan udah terbilang dewasa, bagaimana sikap kita yang terbaik untuk orang tua kita yang nun jauh di sana..

beliau kemudian cerita salah seorang tabi’in. Namanya Uwais Al Qarni. kisahnya seperti ini (saya kutip dari hanafishahdan.blogsome.com):

Uwais ra. adalah pemuda dari Yaman. beliau telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Subhanallah..
sungguh kisah yang bisa kita teladani. Seorang yang berbakti dengan orang tuanya. Hingga Allah SWT menjadikan dia mulia.

saudaraku..mari berlomba-lomba untuk memuliakan kedua orang tua kita. sediakan waktu untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi. Rawat mereka apabila keadaannya seperti ibunda uwais al qarni.

Ada Apa dengan Israel


Udah pada baca infopalestina.com? di sini kalian bakal nemuin artikel2 yang ngga ada di media lain. ada sisi lain yang ngga dibahas di media lain. mungkin ini bagian dari perang media. tapi insya allah media infopalestina ini, saya yakini kebenaran informasinya.

mengamati gerak-gerik israel yang menyerang sekolah, masjid (dan muslim yg sdg shalat di dalamnya), gedung pemerintahan, pemukiman, yang notabene dilarang untuk diserang, malah dihancurkan tanpa ampun. hal-hal ini yang membuat saya dan temen2 berdiskusi, kenapa ya israel melakukan itu?

kawan, bisa jadi ini salah satu indikasi kekesalan israel dan “kekalahan israel”. Mereka frustasi dalam melakukan perlawanan terhadap brigade izzudin al qassam (sayap militer hamas). penyerangan dari darat nampaknya belum dioptimalkan oleh israel. atau dengan kata lain mereka takut berperang di darat. yang mereka lakukan justru penyerangan dari udara yang bertubi-tubi dan membahayakan warga sipil.

kemudian gencatan senjata sepihak dilakukan oleh mereka (israel) walaupun cuman 10 hari.berbeda dengan hamas, mereka mengajukan syarat untuk gencatan senjata. yaitu, pencabutan blokade terhadap Gaza, pembukaan perlintasan serta penarikan penuh pasukan Israel. gencatan senjata sepihak yang dilakukan israel belum menjadi solusi. pasukan mereka masih berkeliaran di gaza.

kemudian, penyiksaan yang dilakukan oleh israel ternyata tidak hanya dengan serangan bertubi-tubi. mereka melakukan blokade dan menutup jalan keluar masuk gaza. akibatnya, bantuan sangat sulit disuplai dan korban-korban warga sipil yang terluka tidak bisa dirawat di luar gaza. blokade ini pula yang telah lama menjadikan warga gaza mengalami kelaparan, kekurangan air, dan matinya perekonomian.

kawan, inilah kebiadaban israel, lalu apa yang bisa saya dan kalian lakukan?

%d blogger menyukai ini: