Arsip

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Menegaskan Langkah Gerakan Pemuda Muslim Dalam Kerangka Ilmiah dan Spirit kebangkitan IPTEK

November 16, 2009 2 komentar

foto sobat bolangIPTEK merupakan bagian tak terpisahkan dari mahasiswa. Ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi oleh kalangan intelektual (mahasiswa). Mahasiswa memiliki kemampuan lebih dari golongan masyarakat lain dalam menyerap ilmu, mempelajari, menerapkan dan menyebarluaskannya. Lihat dalam sejarah bahwa ahli-ahli di setiap bidang dulunya adalah mahasiswa. Pemimpin-pemimpin masyarakat dulunya adalah mahasiswa. Pasti mereka belajar menempa diri terlebih dahulu sebelum menjadi orang-orang penting.

Teknologi sendiri merupakan turunan dari ilmu pengetahuan. Dari sains teknologi dikembangkan untuk memudahkan penyelesaian suatu masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia. Dengan teknologi manusia dapat hidup dengan lebih mudah dari waktu ke waktu. Lihat teknologi informasi menjadikan setiap manusia dapat mendapatkan informasi tanpa perantara manusia langsung. Cukup dengan koneksi internet atau menonton televisi. Teknologi industri menjadikan segala kebutuhan sandang, pangan dan papan manusia dipenuhi secara mudah dan murah. Dan teknologi transportasi menjadikan kita mudah mengunjungi suatu tempat dalam waktu yang lebih singkat. Dulu orang untuk naik haji membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai makkah dari Indonesia. Namun sekarang cukup beberapa jam saja muslim Indonesia dapat menunaikan ibadah haji. Baca selanjutnya…

UU BHP: apakah masih perlu kita kritisi? (1)

Januari 28, 2009 2 komentar

Rabu kemarin (28 Januari 2009) ada opini menarik di harian pikiran rakyat. Opini tersebut berisi tentang kontroversi UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang telah disahkan 17 Desember 2008 yang lalu. Saya tertarik dengan isi bahasannya karena alhamdulillah saya sudah lebih paham mengenai permasalahan ini.

Masih melekat di dalam pikiran saya penjelasan Dr. Irwan Prayitno (Ketua Komisi X DPR RI) dan Prof. Eko Prasojo (Guru Besar UI dan Anggota MWA UI) ketika mereka berdua berbicara di suatu seminar di jakarta. Ternyata selama ini apa yang diperjuangkan oleh kalangan mahasiswa ketika pengesahan UU BHP tidak didasari pemahaman yang benar.
Saya mengambil contoh dari arsip BHP: skenario liberalisasi pendidikan negeri ini (kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dengan dunia pendidikan indonesia) yang dikeluarkan oleh KM-ITB. Poin-poin yang dibahas pada kajian tersebut ternyata tidak merujuk pada UU BHP yang baru disahkan DPR. Poin-poin tersebut antara lain:

1. “Pada pasal tersebut (pasal 41) terlihat bahwa baik pada pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi, tetap terdapat porsi-porsi pembiayaan yang tidak ditanggung oleh pemerintah…”, “dari sinilah terbuka beberapa mekanisme usaha bagi BHP untuk memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya. Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya. Hal ini tentunya membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi pendidikan…”

Mari kita tinjau ulang poin pembahasan di atas dengan merujuk pada pasal 41 UU BHP. Berikut saya tulis ulang pasal 41 UU BHP

Pasal 41
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik, berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memberikan bantuan sumberdaya pendidikan kepada badan hukum pendidikan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(4) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung paling sedikit 1/3 (sepertiga) biaya operasional pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(5) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(6) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung paling sedikit ½ (seperdua) biaya operasional, pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(7) Peserta didik yang ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan harus menanggung biaya tersebut sesuai dengan kemampuan peserta didik, orang tua, atau pihak yang bertanggung jawab membiayainya.
(8) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan menengah berstandar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan pada BHPP atau BHPPD paling banyak 1/3 (sepertiga) dari biaya operasional.
(9) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan tinggi berstandar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan pada BHPP paling banyak 1/3 (sepertiga) dari biaya operasional.
(10) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya pada badan hukum pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jika diringkas isi dari pasal di atas dalam bentuk tabel akan tampak sebagai berikut:

Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa porsi kewajiban peserta didik (siswa dan mahasiswa) hanya diberikan pada pendidikan menengah dan tinggi. Besarnya pun dibatasi yaitu maksimal 1/3 dari biaya operasional. Menurut Prof. Eko Prasojo sebagai Anggota MWA Universitas Indonesia, jika dihitung-hitung kewajiban mahasiswa UI untuk membayar SPP setiap semesternya paling mahal hanya berkisar 900.000 ribu saja. Besar biaya ini terbilang kecil, apalagi bagi mahasiswa dari kalangan menengah ke atas.

Gambaran porsi kewajiban berbagai elemen dalam BHP ini ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Kemudian terkait dengan adanya peluang bagi institusi pendidikan untuk melakukan usaha memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya (sebesar 17%). Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya. Yang dapat membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi pendidikan, dapat dibantah dengan pasal 37 ayat 6 yang berbunyi:

Kekayaan dan pendapatan badan hukum pendidikan digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk:
a. kepentingan peserta didik dalam proses pembelajaran,
b. pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam hal badan hukum pendidikan memiliki satuan pendidikan tinggi,
c. peningkatan pelayanan pendidikan, dan
d. penggunaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Seluruh keuntungan usaha yang dilakukan oleh BHP akan digunakan untuk kepentingan pendidikan. jadi orientasinya berbeda dengan perusahaan yang mengutamakan profit. orientasi usaha yang dilakukan BHP adalah nirlaba/nonprofit.

Kita juga bisa merujuk pada pasal 43 terkait dengan badan usaha ini.

Pasal 43
(1) Badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan investasi dengan mendirikan badan usaha berbadan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk memenuhi pendanaan pendidikan.
(2) Investasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 ayat (3) dan investasi tambahan setiap tahunnya paling banyak 10% (sepuluh persen) dari volume pendapatan dalam anggaran tahunan badan hukum pendidikan.
(3) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola secara profesional oleh dewan komisaris, dewan direksi, beserta seluruh jajaran karyawan badan usaha yang tidak berasal dari badan hukum pendidikan.
(4) Seluruh deviden yang diperoleh dari badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah dikurangi pajak penghasilan yang bersangkutan digunakan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (6).
(5) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimanfaatkan untuk sarana pembelajaran peserta didik.

.

Secara umum, kita perlu membahas dan meninjau ulang pernyataan sikap yang dilakukan oleh para mahasiswa. Sebelum memberikan sikap, kita (mahasiswa) harus dengan cermat mempelajari UU BHP ini. Jangan sampai kejadian-kejadian di makassar dan kota besar lainnya terjadi kembali. Dimana mahasiswa melakukan tindakan anarkis. padahal mereka belum membaca UU ini dengan seksama.

Saya masih punya bahasan lain terkait dengan UU ini. Semoga bisa nulis lagi 🙂

Berikut saya lampirkan pula arsip-arsip yang berkaitan dengan pembahasan ini

Draft UU BHP
BHP: Skenario Liberalisasi…KM-ITB
Pernyataan Sikap KM-ITB

Dunia riset dan inovasi Indonesia saat ini

Desember 20, 2008 1 komentar


Baca koran PR hari ini (21 desember 08) terus nemu artikel bagus. semoga bisa menjadi bahan pemikiran buat temen2 yang berkecimpung di dunia industri dan dunia riset untuk bisa bekerjasama lebih baik lagi. Untuk Indonesia yang semakin maju. (masak dari dulu negara berkembang terus, bisa-bisa jadi negara tidak berkembang ^_^)

Bagaimana pandangan Pak Indratmo tentang dunia riset dan inovasi Indonesia saat ini? Bagaimana pula ITB sebagai world class university menyejajarkan diri dengan perguruan tinggi lain di dunia di bidang riset dan inovasi? Termasuk beberapa pandangan Ia tentang dunia keroncong yang menjadi hobinya selama ini? Ikuti perbincangan wartawan “PR”, Eriyanti, dengan Indratmo Soekarno selama perjalanan menuju perhelatan IKF 2008 berikut ini.

Bagaimana sebetulnya riset-riset yang dilakukan ITB selama ini?

Riset-riset yang dilakukan ITB selama ini adalah bagaimana menemukan suatu penemuan untuk kemudian ditingkatkan pada skala yang mendekati prototipe. Setelah itu, prototipe ini diturunkan lagi menjadi skala industri. Untuk skala industri ini, bukan lagi urusan perguruan tinggi tetapi dunia industri. Namun link antara perguruan tinggi dan industri belum baik. Tugas saya antara lain mengusahakan hasil produk-produk ini digunakan dunia industri. Dunia industrilah yang nanti memroduksinya. Hasilnya bukan saja dapat dirasakan dunia industri tetapi juga masyarakat. ITB sebagai perguruan tinggi juga mempunyai income dari hasil penelitiannya. Nanti income tersebut digunakan kembali untuk penelitian.
Kalau begitu, riset-riset yang dilakukan ITB selama ini baru sebatas prototipe. Bagaimana dengan pengembangan keilmuannya?
ITB tidak hanya menjalin hubungan dengan dunia industri agar mereka mau mengembangkan prototipe-prototipe hasil temuan kita. Tetapi selalu ada tiga aspek yang dikembangkan dari suatu riset. Pertama hasil penelitian tersebut bisa menjadi suatu produk paten. Kedua menjadi suatu tulisan ilmiah pada jurnal internasional ataupun jurnal nasional yang terakreditasi (klasifikasi tinggi). Ketiga menjadi produk yang membantu pemecahan permasalahan bangsa ini. Contohnya bagaimana meningkatkan hasil pangan (padi) dengan menggunakan lahan, air, dan pupuk yang sedikit tetapi menghasilkan produk panen yang lebih banyak. Jadi, menjalin hubungan dengan dunia industri hanya salah satu saja dari pengembangan hasil-hasil riset yang kita lakukan.

Bagaimana respons dunia industri sendiri terhadap hasil-hasil riset yang dilakukan perguruan tinggi?

Inilah masalahnya. Diseminasi hasil temuan tidak bisa dimanfaatkan masyarakat karena dunia industri tidak merespons hasil-hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi. Padahal, tanggung jawab perguruan tinggi hanya sampai pada prototipe. Pengembangan prototipe selanjutnya sudah menjadi tanggung jawab dunia industri. Persoalannya, dunia industri hanya mau mengembangkan riset-riset yang sudah bersifat massal. Akibatnya, banyak hasil penelitian yang berhenti hanya pada tingkat prototipe.

Lalu, bagaimana dengan masalah paten? Apakah hasil-hasil riset yang dilakukan ITB sudah dipatenkan?

Inilah masalahnya. Belum banyak hasil riset ITB yang dipatenkan. Paling, baru 85 riset yang sudah dipatenkan. Dari jumlah itu pun, hanya 8 yang sudah sertifikat dan baru 2 yang dipakai dunia industri.

Wah, sedikit sekali…?

Ya, memang! Dunia industri kita hanya mau menerima barang jadi yang sudah dalam skala produksi. Mereka enggan menggunakan prototipe yang belum menjadi produk massal. Padahal, kalau mereka mau menggunakan prototipe tersebut, bukan saja produksi mereka akan lebih baik tetapi juga menghidupkan penelitian di perguruan tinggi dan membantu masyarakat hidup lebih baik. Hasil temuan perguruan tinggi kan baru akan dirasakan masyarakat bila prototipe yang dibuatnya dikembangkan industriawan.

Lalu, bagaimana dengan masalah paten? Ternyata masih sangat sedikit juga?

Untuk Indonesia saja, yang mengajukan proses paten hanya 400 per tahun. Yang mengajukan proses paten itu pun hanya 7% saja yang berasal dari dalam negeri. Sedangkan sisa terbanyaknya berasal dari luar negeri. Kondisi ini memang sangat memalukan. Apalagi bila dibandingkan dengan Amerika. Di negeri ini, sebanyak 150.000 proses paten yang diajukan per tahun. Sedangkan di Jepang sudah mencapai 3.000 proses paten yang diajukan per tahun. Itulah sebabnya, mengapa ITB sekarang sangat peduli dengan masalah paten ini.

Apa yang menyebabkan orang enggan mematenkan hasil-hasil temuannya? Konon malah banyak dosen yang malas mematenkan hasil temuannya?

Memang banyak dosen yang tidak mau mematenkan produknya. Mereka tidak terlalu antusias karena prosesnya lama bisa mencapai lima tahun. Apalagi dosen-dosen farmasi, kalau sudah masuk uji klinis, sangat melelahkan. Mereka perlu ratusan orang yang mau digunakan sebagai eksperimen. Tetapi tugas saya memang harus meningkatkan keinginan dosen dalam mematenkan karya-karyanya. Sebab tidak setiap dosen peduli dengan paten atau tulisan ilmiah. Misalnya, beberapa dosen ada yang membuat mesin untuk membuat minyak jarak, ada juga yang membuat penjernihan air, memproses crude palm oil (CPO), dan membuat teknologi untuk mengangkat bangunan miring, tetapi mereka sengaja tidak mematenkannya. Anggapan mereka, yang penting bisa digunakan untuk kepentingan pembangunan.

Untuk “positioning” ITB sebagai “world class university”, hal apa yang menurut Anda masih dirasakan kurang dan harus dikembangkan?

Keinginan kami adalah meningkatkan jumlah karya ilmiah. ITB sebagai world class university harus mempunyai tulisan di jurnal internasional lebih banyak lagi. Untuk target 2009 ini, paling tidak ada seperempat dari jumlah dosen bisa menghasilkan makalah. Sedikitnya akan ada sekitar 200 tulisan dalam jurnal internasional. Sedangkan jumlah dosen ITB saat ini hampir 100 orang. Kalau sampai dua ratusan saja, itu sudah bagus. Sedangkan untuk jurnal nasional paling tidak setengah daripada jumlah dosen itu sudah menulis.

Untuk “positioning” seperti itu tentunya memerlukan anggaran riset yang lebih besar?

ITB akan mengupayakan jumlah anggaran penelitian terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika anggaran riset 2008 hampir mencapai Rp 40 miliar, anggaran riset 2009 harus mencapai Rp 50 miliar. Dana itu bisa diperoleh dari ITB Rp 13 miliar, insentif Menristek 11 miliar lebih, dan sumber-sumber lain. Pokoknya harus terus meningkat karena target dosen menulis karya ilmiah pun harus meningkat.

Bapak Prof. Indratmo Soekarno lama menjabat sebagai Ketua Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) ITB. Lulusan Teknik Sipil ITB (1983), Magister Strathclyde University, UK (1988), dan Doktor Strathclyde University, UK (1991) ini, banyak meneliti dan menulis karya ilmiah tentang hidraulik dan rekayasa air.

Kategori:Akhlak, Pendidikan

Tawuran Mahasiswa Versus Kontribusi Mahasiswa

November 6, 2008 3 komentar


Sejarah mahasiswa kembali tercoreng. Bentrokan sesama mahasiswa kembali terjadi. Kali ini terjadi di Makassar, yaitu di Universitas Muslim Indonesia. Seperti yang dilansir oleh media massa setempat (Tribun Makassar), bentrokan ini melibatkan mahasiswa fakultas teknik dengan mahasiswa yang tergabung di unit kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UMI. Akibat bentrokan tersebut, seorang mahasiswa fakultas teknik, mengalami luka parah akibat terkena tebasan parang dan anak anak panah di bagian leher. Dua mahasiswa teknik lainnya menderita luka akibat bentrokan.

Bentrokan ini dipicu hanya karena provokasi berupa pamflet oleh Kelompok Mapala di sekitar fakultas teknik. Pamflet ini kemudian membuat beberapa mahasiswa fakultas teknik naik pitam hingga akhirnya menyerang unit Mapala tersebut. Dari penyerangan ini bentrokan akhirnya tidak teredam, hingga korban berjatuhan.

Ketidakdewasaan Mahasiswa

Mahasiswa yang terlibat bentrokan tersebut dinilai sama dengan anak-anak. Bentrokan yang dilakukan merupakan cerminan belum adanya sikap dewasa dalam diri pelaku. Sikap kekanak-kanakan yang dimiliki pelaku menjadikan para pelaku tidak mengedapankan hati nurani serta akal yang jernih. Emosi mudah sekali meledak hanya karena ejekan atau provokasi yang tidak ada gunanya.

Sayangnya para pelaku membawa identitas mahasiswa yang notabenenya merupakan kaum intelek, kaum terpelajar. Kaum yang mengenyam pendidikan hingga tingkatan tinggi dalam strata pendidikan formal. Para pelaku dapat dikatakan sebagai produk gagal dari pendidikan tersebut. Entah siapa yang gagal, apakah pendidik, sekolah, atau sistem pendidikan yang membuat mereka gagal memahami dan mengaplikasikan nilai luhur pendidikan tersebut. Nilai luhur pendidikan akan menjadikan seseorang yang dididik memiliki akhlak yang baik, kemandirian, dan kedewasaan. Ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan indonesia masih gagal membentuk pelajar yang sesuai dengan nilai luhur pendidikan.

Fakta yang terjadi di Indonesia mengenai bentrokan pelajar semakin memperkuat hipotesis yang telah dipaparkan sebelumnya. Berikut fakta-fakta yang memperkuat hipotesis ini:

1. Ratusan mahasiswa Universitas 45 Makassar terlibat tawuran dengan aksi lempar batu sesama mahasiswa pada Senin 3 November 2008

2. 24 September 2008. sebanyak 24 mahasiswa berasal dari Fakultas Sastra dan Desain (FSD), satunya lagi dari Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar

3. Tawuran mahasiswa fakultas teknik melawan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, fakultas ilmu ilmu budaya, dan ekonomi, Unhas, Selasa (26/2)

4. Tawuran antara pelajar SMK Bhakti dan SMK Penerbangan, Blok-M, Jakarta Selatan,18 februari 2007

5. Mahasiswa dari Fakultas Sastra dan Seni Rupa melawan mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, UNS, Selasa, 05 Desember 2006

dan masih banyak lagi.

Fakta di atas cukup menjadi bukti bahwa ada kesalahan dalam sistem pendidikan kita. Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan sudah seharusnya mencermati betul permasalahan ini. Evaluasi dan tindakan cepat harus segera dilakukan untuk mengantisipasi kasus-kasus serupa. Bagaimana mungkin Indonesia akan mencapai visinya pada tahun 2020 yakni ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang bersatu jika pada saat ini mahasiswa dan pelajarnya saja masih tawuran.

Mahasiswa Sebagai Agent Of Change

Kenyataan akan tawuran yang masih sering terjadi di Indonesia memunculkan tanda tanya besar: Apakah identitas mahasiswa yang sering disebut-sebut sebagai agen perubahan (agent of change) masih relevan?

Sejarah Indonesia penuh dengan tinta emas para pemuda dan mahasiswa. Reformasi 1998, Malari 1974, Tritura 1966, dan sebagainya menjadi sejarah emas pergerakan mahasiswa. belum lagi jika melihat sejarah kemerdekaan Indonesia, akan terlihat bagaimana peran mahasiswa jelas-jelas menjadi segolongan agen perubahan. Namun kemudian sejarah ini tercoreng beberapa tahun ini. Sejak reformasi bergulir, banyak mahasiswa terlibat bentrokan antar sesama mereka. Golongan yang sering disebut-sebut sebagai pembela rakyat kini malah menyusahkan rakyat.

Hal inilah yang harus menjadi bahan evaluasi untuk para aktivis kemahasiswaan se-Indonesia. Disinilah perlunya sebuah upaya-upaya pencerdasan kepada mahasiswa untuk senantiasa berpikir dan bergerak sebagai agen perubahan di masyarakat. Agen perubahan bukanlah hal yang klise, apalagi dengan titel mahasiswa. Masyarakat Indonesia masih menghargai mahasiswa. Mereka pasti mengharapkan kontribusi-kontribusi nyata mahasiswa. Kontribusi yang tentunya beraneka ragam.

Satu contoh kontribusi mahasiswa untuk masyarakat adalah apa yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Teknik Kimia ITB. Mereka menerapkan ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah untuk kemaslahatan masyarakat. dilatarbelakangi kepedulian mahasiswa tersebut akan krisis air bersih yang melanda penduduk sekitar sungai cikapundung, mereka kemudian berusaha untuk menyediakan air bersih gratis untuk penduduk tersbut. munculah suatu program yang dinamakan penyediaan air bersih dengan teknologi membran. Walaupun air bersih yang disediakan hanya cukup untuk satu RT saja, namun ini sudah menjadi bentuk kontribusi positif mahasiswa. Masyarakat yang menikmati air bersih tersebut menjadi terbantu oleh mahasiswa dengan teknologi ini. Tentunya jika tidak ada mahasiswa tersebut besar kemungkinannya mereka selalu sulit untuk mendapatkan air bersih. Dan faktanya sangat sedikit pihak-pihak termasuk pemerintah yang peduli dengan masalah-masalah seperti ini.

Contoh lainnya adalah kontribusi mahasiswa teknik elektro ITB dalam upaya pengadaan listrik teknologi mikrohidro di daerah terpencil di jawa barat. Dan masih banyak lagi bentuk kontribusi positif lainnya. Inilah bukti bahwa mahasiswa masih punya harapan. Tinggal bagaimana tekad dan idealisme tersebut diperkuat. Karena memang mahasiswa akan selalu menjadi agen perubahan. Strata Mahasiswa merupakan Suatu strata yang khas dan tidak dimiliki golongan lain yaitu penghubung rakyat kecil dengan para penguasa.

Cara Membaca Al quran praktis bagi para pengguna internet

September 8, 2008 1 komentar


Ramadhan adalah bulan Al quran. Bulan ini harus kita jadikan bulan yang penuh dengan interaksi kita dengan al quran.
saya ingin bagi-bagi tips buat temen2 yang ngga bisa lepas dari komputer. biasanya kalo seseorang udah di depan komputer akan sulit melepaskan diri, akibatnya bisa jadi berdampak pula pada interaksi kita dengan al quran. Kita jadi agak malas untuk membuka mushaf al quran karena sudah keasyikan di depan komputer.
saya mengalami hal ini, mungkin karena lagi banyak kerjaan yang harus diselesaikan di depan komputer, tilawah dengan mushaf biasa jadi agak malas. saya coba cari al quran online di internet dan saya merasa lebih nyaman.
jadi buat temen2 yang mengalami hal yg serupa, atau mungkin memang ngga punya mushaf, atau mushaf nya udah usang, atau alasan yg lain, sekarang ngga usah nyari alasan lagi. di depan kita udah ada al quran. coba buka ini : http://www.quranflash.com/en/index.html#

alhamdulillah membaca al quran menjadi lebih mudah

Pernikahan Rasulullah SAW dan Dakwah Pasca Pernikahan

Agustus 2, 2008 1 komentar


Pernikahan Rasulullah Muhammad saw merupakan salah satu catatan sejarah yang menakjubkan. Pernikahan beliau dengan Siti Khadijah radiyallahu anha menjadi bahan pembicaraan Kaum Quraisy di Kota Makkah. Hal ini disebabkan oleh karena Siti Khadijah yang merupakan wanita yang paling terpandang, cantik, pandai dan sekaligus kaya. Sementara Rasulullah saw sendiri pada saat itu masih berusia 25 tahun menikahi seorang khadijah binti khuwailid yang berusia 40 tahun.
Khadijah binti khuwailid adalah seorang wanita bangsawan suku quraisy yang memiliki kedudukan terhormat, cerdas, berakhlak mulia, memiliki kekayaan, dan seorang janda. Ia ditinggal mati oleh Abu Halah, suaminya.

Pertemuan antara Muhammad saw dan Khadijah ra.

Pernikahan indah antara rasulullah saw dan khadijah ra berawal dari kisah dagang beliau. Muhammad saw muda diberi kepercayaan oleh seorang saudagar ternama Kaum Quraisy, Khadijah binti Khuwailid. Ibnu Ishaq menuturkan, Khadijah biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasil kepada mereka. Sementara orang-orang quraisy memiliki hobi berdagang. Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan seorang pemuda bernama Muhammad, kredibilitas dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke syam untuk menjalankan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan yang jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah diberikan kepada pedagang lain. Beliau harus pergi bersama seorang pembantu yang bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran ini. Maka beliau berangkat ke Syam untuk berdagang dengan disertai Maisarah.

Pernikahan dengan Khadijah

Khadijah tertarik hatinya mendengarkan kisah Muhammad dari pembantunya, Maisarah. Maisarah menceritakan pengalamannya berdagang bersama Muhammad. Dia menceritakan bagaimana sifat-sifat beliau (Muhammad) yang mulia, kecerdikan dan kejujuran beliau. Khadijah dikisahkan dalam sirah nabawiyah seakan-akan mendapatkan barangnya yang pernah hilang dan sangat diharapkannya. Maka ia pun menawarkan diri kepada beliau. Padahal sebelumnya ia telah menolak beberapa pembesar suku quraisy yang melamarnya.
Dia (khadijah) meminta rekannya, Nafisah binti Munyah untuk menemui beliau dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah. Dan ternyata beliau (Muhammad) menerima tawaran itu, lalu beliau menemui paman-paman beliau. Dikisahkan oleh dalam sirah Ibnu Hasyim bahwa beliau dilamarkan oleh paman beliau yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Thalib menyampaikan khutbah pernikahan tersebut. Yang ikut hadir dalam pelaksanaan akad nikah adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar. Hal ini terjadi dua bulan setelah kepulangan beliau berdagang di Syam. Maskawin beliau berupa dua puluh ekor unta muda. Usia Khadijah sendiri empat puluh tahun. Dia adalah wanita pertama yang dinikahi rasulullah saw. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain hingga dia meninggal dunia.
Semua putra-putri beliau, selain Ibrahim yang dilahirkan Maria Al Qibthiyah, dilahirkan dari Khadijah. Yang pertama adalah Al Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Semua putra beliau meninggal dunia selagi masih kecil. Sedangkan semua putri beliau sempat menjumpai islam dan mereka masuk islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi beliau masih hidup, kecuali Fathimah. Dia meninggal dunia selang enam bulan sepeninggal beliau, untuk bersua dengan beliau.

Kisah-Kisah Penting Sebelum Pernikahan

Pernikahan beliau dengan Siti Khadijah ra. Merupakan salah satu episode kehidupan sebelum kenabian. Abul Hasan An Nadwi dalam sirahnya mengatakan : pernikahan beliau dengan Khadijah adalah salah satu kisah menuju kebangkitan agung, yakni diutusnya Rasulullah saw. Kisah pernikahan beliau ini adalah salah satu episode yang meningkatkan kapasitas beliau sebagai rasul nantinya. Episode-episode penyempurnaan pribadi rasul dalam diri seorang Muhammad saw terjadi pula di masa sebelum pernikahan beliau.
Abul Hasan An Nadwi dalam sirahnya menyebutkan bahwa sebelum pernikahan beliau, rasulullah saw mendapatkan tarbiyah ilahiyah atau pendidikan yang bersifat ketuhanan. Rasul saw memiliki sifat paling baik akhlaknya, sangat pemalu, sangat jujur, sangat amanah serta terhindar dari perbuatan keji dan jahat. Sedemikian rupa sehingga beliau mendapatkan gelar al amin (orang yang dipercaya).
Beliau selalu menyambung tali silaturahim, suka meringankan beban kesulitan manusia, menghormati tamu dan suka memberi pertolongan atas dasar kebaikan dan ketaqwaan. Beliau makan dari hasil kerjanya sendiri dan bersikap sederhana dalam menikmati makanan.
Ketika Rasul saw berusia 14 atau 15 tahun, terjadi perang fijar antara suku Quraisy dan Qais ‘ailan. Beliau mengalami saat terjadinya perang tersebut dan berperan dalam mempersiapkan anak panah dan tombak untuk paman-pamannya dalam membalas serangan musuh. Melalui perang tersebut beliau memiliki ketangkasan berkuda dan keberanian berperang.
Setelah perang fijar beliau menyaksikan terjadinya Peristiwa Hilful Fudhul yang artinya sumpah setia yang luhur. Sumpah setia yang amat mulia yang pernah beliau dengar dan beliau saksikan pada bangsa arab. Rasulullah sangat menyukai sumpah setia tesebut dan ikut mematuhinya. Sumpah setia untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya dan menjaga agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dari seseorang kepada orang lain. Ketika beliau telah diangkat menjadi nabi, beliau menyatakaan berkenaan dengan sumpah itu, “sungguh aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jad’an sebuah sumpah setia yang lebih aku sukai daripada unta merah. Seandainya pada masa islam aku diminta melakukannya maka akan aku penuhi”
Kisah penting sebelum pernikahan agung diakhiri dengan masa perdagangan beliau ke negeri Syam (Iraq masa lalu). Dikisahkan dalam sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury, pada awal masa remajanya rasul saw tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa menggembala kambing di kalangan bani sa’d dan juga di makkah dengan imbalan uang beberapa dinar. Kisah beliau sebagai gembala kambing ini dikatakan oleh para ulama sebagai pendidikan kepemimpinan beliau di masa remaja. Bukan hal yang mudah urusan menggembala kambing itu, diperlukan perhatian yang tinggi, kemampuan lapangan, tanggung jawab yang besar, keberanian dan sikap kepemimpinan lainnya.
Baru pada usia 25 tahun beliau diberikan amanah membawa barang dagangan milik bangsawan bernama Khadijah binti Khuwailid yang pada akhirnya melahirkan cinta dan berbuah pernikahan indah.

Dakwah Pasca Pernikahan

Bisa dikatakan, pernikahan beliau dengan Khadijah berefek multi (multi effect). Status beliau berubah setelah menikah menjadi seorang suami dan ayah. Peran beliau semakin menambah kapabilitas beliau sebagai rasul nantinya. Selain itu di sisi lain ada efek baik dari pernikahan ini. Karena khadijah seorang yang terpandang di kalangan bangsawan quraisy ditambah rasul saw yang dikenal sebagai seorang al amin, keluarga rasul saw menjadi keluarga yang terpandang di kalangan masyarakat quraisy. Strata sosial seorang Muhammad yang nantinya menjadi rasulullah, semakin naik. Ditambah lagi jaringan beliau yang semakin luas karena pengaruh istrinya yang luar biasa.
Pasca pernikahan beliau, terdapat suatu peristiwa yang menggemparkan Kaum Quraisy. Peristiwa tersebut hamper memicu terjadinya pertumpahan darah diantara mereka. Peristiwa tersebut adalah kisah renovasi ka’bah. Pada saat itu rasul saw berusia 35 tahun, beliau menjadi pahlawan dari kisah fenomenal ini. Rasul saw berhasil menjadi penengah dan pemberi solusi atas masalah yang muncul pada saat renovasi ka’bah tersebut. Cara yang beliau lakukan untuk menengahi sangatlah luar biasa, di luar pemikiran kaum quraisy saat itu. Dengan cerdasnya, rasul saw meminta sehelai kain kemudian beliau meletakkan hajar aswad di atas kain dengan tangannya sendiri. Setelah itu, beliau berkata : “setiap pemimpin (suku) hendaknya memegang sudut kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama.” Mereka melakukan apa yang diminta rasul saw. Ketika sampai pada tempat hajar aswad di dinding Ka’bah, beliau mengambil batu tersebut dan meletakkannya di tempatnya. Kemudian pembangunan diteruskan hingga selesai. Beliau mencegah kemungkinan perang saudara antara kaum quraisy dengan kebijaksanaan, kecerdasan, rasa simpati, kelembutan dalam berbagai persoalan dan perdamaian antara sesama manusia.
Akhirnya Nabi saw telah menghimpun sekian banyak kelebihan dari berbagai lapisan manusia selama pertumbuhan beliau. Beliau menjadi sosok yang yang unggul dalam pemikiran jitu, pandangan yang lurus, mendapat sanjungan karena kecerdikan, kelurusan pemikiran, pencarian sarana dan tujuan. Keadaan beliau digambarkan oleh istrinya, Khadijah ra : “beliau membawa bebannya sendiri, memberi orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun yang hendak menegakkan kebenaran”
Pernikahan beliau dengan Khadijah adalah bagian penting dari kehidupan dakwah beliau. Ketika menerima wahyu untuk pertama kalinya, khadijah lah yang menenangkan beliau dan memberi dukungan kepada beliau. Saya bisa merasakan getaran kasih sayang seorang istri pada saat ketakutan yang amat sangat dari seorang suami, dalam hal ini rasul saw. Apa yang khadijah katakan kepada suaminya di saat ketakutan karena baru pertama kali menerima wahyu? Dia berkata : “tidak akan terjadi apa-apa! Demi Allah, Dia tidak akan pernah mempermalukan engkau selamanya. Sungguh engkau benar-benar menyambung hubungan kasih sayang, meringankan beban orang-orang yang menderita, memberi orang yang kehilangan, menghormati tamu dan selalu menolong atas dasar kebenaran.” Dukungan Khadijah terhadap beliau tidak sekedar kata-kata. Dia kemudian mencari dukungan dengan cara mencari info dari orang yang alim yaitu Waraqah bin Naufal. Dan benarlah, Waraqah mendukung Rasul saw. Setelah mendengar kisah yang dialami rasul saw saat menerima wahyu pertama di gua hira, dia berkata : ”demi dzat yang diriku berada dalam kekuasaan Nya. Sesungguhnya engkaulah nabi umat ini. Sesungguhnya engkau telah didatangi An Namus Al-Akbar, yang pernah datang menemui Musa. Dan sesungguhnya kaummu akan mendustakanmu, menyakitimu, mengusirmu bahkan akan memerangimu.” Khadijah kemudian beriman kepada Muhammad saw. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Ia selalu membantu di samping suaminya, meringankan kesedihannya, dan menganggap ringan terhadap orang-orang yang akan menghalangi suaminya.

Referensi :

Abul Hasan An Nadwi. Sirah Nabawiyah : Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta : Mardhiyah Press. 2005.

Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Pustaka Al Kautsar. 2006

Kategori:Akhlak, Islam, Pendidikan

Mengenal sosok "Bill Gates Muslim dari India"

Saya baru mengenal sosok yang satu ini ketika salah seoran teman saya meminjamkan buku biografinya. hal pertama yang saya lakukan dengan buku itu adalah melihat testimoni-testimoni yang tertera di halaman belakang. salah satunya adaah dari rektor ITB Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. beliau berkomentar seperti ini

“Banyak contoh sukses dari tokoh kelas dunia. Buku ini menyajikan contoh seorang muslim yang berhasil dengan mengandalkan kerja cerdas, integritas dan mendahulukan kualitas”.

Tentang bukunya, saya katakan ini salah satu buku yang menginspirasi saya. seorang muslim india yang tiba-tiba mendapatkan tantangan besar ketika ia diharuskan menjadi direktur dari perusahaan ayahnya yang baru saja meninggal dunia. berusia 22 tahun dengan status mahasiswa tingkat akhir universitas di USA. dan apa yang terjadi?perusahaan yang ia pimpin menjadi salah satu perusahaan IT terbaik di dunia, subhanallah…

Nah, saya menginginkan siapapun membaca buku ini. saya menemukan resensi buku tersebut di situs penerbitnya (mizan), ini kutipannya :

“Beberapa tahun lagi, saya yakin semua orang yang bermaksud membuat proyek servis TI yang kompleks akan bertanya, ‘Mungkin kita bisa minta bantuan Wipro?’

Kami (Microsoft) adalah pelanggan Wipro yang amat puas.”

—Bill Gates, pendiri Microsoft

•Pengusaha Muslim Terkaya di Dunia

•Urutan ke-21 “Orang Terkaya di Dunia” Versi Forbes 2007

•“30 Pengusaha Terhebat Sepanjang Masa” Versi BusinessWeek, Juni 2007

•“10 Orang di Dunia yang Paling Mampu Membuat Perubahan” Versi Forbes, Mei 2003

•“100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” Versi Time, April 2004

•“100 Miliuner yang Paling Banyak Membuat Perubahan” Versi Financial Times, November 2004

Hanya bermodal perusahaan minyak goreng warisan dari ayahnya yang nyaris bangkrut, Azim Premji, tanpa bekal pengetahuan dan pengalaman tentang komputer, berhasil membangun salah satu perusahaan software terbesar di dunia saat ini. Kisah sukses Wipro pantas disimak karena Premji senantiasa menanamkan semangat inovasi, mengejar keunggulan, dan memegang teguh nilai-nilai luhur sebagai prinsip bisnisnya. Azim Premji dan Wipro telah menjadi ikon kebangkitan kekuatan bisnis Asia dan umat Muslim pada abad ke-21. Buku ini mengajak kita mengikuti perjalanan bisnis Azim Premji dan kiat-kiat bisnis yang dibagi-bagikan langsung olehnya.

•Penyedia jasa R&D independen terbesar di dunia

•Termasuk 3 besar penyedia jasa BPO di dunia

•Pendapatan per tahun mencapai 2,4 miliar dolar

•Termasuk 100 perusahaan teknologi paling terkemuka di dunia menurut Business Week

•Pada 2006, menempati urutan ke-7 dalam daftar 100 perusahaan outsourcing paling terkemuka di dunia

•Perusahaan jasa software pertama di dunia yang meraih SEI CMM Level 5

•Organisasi pertama di dunia yang mendapatkan PCMM (People Capability Maturity Model) Level 5

•Memenangi Risk Management Award dari majalah Financial Times-The Banker

•Perusahaan pertama di luar AS yang menerima IEEE Software Process Award

•Menerima Global Leadership Award dari Dale Carnegie

***

Free Image Hosting

“Sebuah buku yang menarik. Penulis dapat menggambarkan positioning Azim Premji secara unik dan menginspirasi banyak pembacanya.”

—Hermawan Kartajaya, Presiden MarkPlus, Inc.

“Banyak contoh sukses dari para tokoh kelas dunia. Buku ini menyajikan contoh seorang Muslim yang berhasil dengan mengandalkan kerja cerdas, integritas, dan mendahulukan kualitas.”

—Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., Rektor ITB

Azim Premji menjadi tonggak kebangkitan ekonomi India … menghantam raksasa-raksasa TI seperti IBM, Accenture, hanya berbekal transformasi perusahaan minyak goreng warisan orangtuanya. Acungan jempol bagi Premji dan buku ini!

A must read book untuk semua yang menginginkan perubahan!

—Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M. Eng.

Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

Ahli dan Praktisi Bisnis Teknologi Informasi dan Telekomunikasi

“Wipro memiliki reputasi yang solid dan sejarah panjang, serta visi yang didukung oleh investasi yang solid.”

—Karen Forte, Kepala TI Allianz, Irlandia

“Visi masa depan kami seluruhnya berhubungan dengan internet.

Dengan menyediakan semua proses komunikasi untuk teknologi itu, Wipro punya peran sentral dalam visi kami.”

—Patrick Burke, Director Global Development Compaq

%d blogger menyukai ini: