Arsip

Archive for the ‘Sosial Politik’ Category

TKI di Arab Saudi dalam Perspektif Perbudakan

Sungguh malang nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita yang bekerja di Arab Saudi. Mereka mengalami berbagai kasus kekerasan yang begitu mengerikan, khususnya di sektor pembantu rumah tangga. Data dari LSM Migrant Care, hingga Oktober 2010, kekerasan terhadap TKI di Arab Saudi mencapai 5.336 kasus. Data versi Kompas (2010), kasus kekerasan TKI di Arab Saudi berada pada angka 22.035 kasus. Jumlah kasus kekerasaan ini merupakan terbanyak kedua setelah kasus kekerasan TKI di Malaysia.

Kekerasan yang terjadi terhadap para TKI di Arab Saudi ini erat kaitannya dengan faktor budaya. Menurut Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH. Hasyim Muzadi, faktor budaya bangsa Arab sulit mencegah tindak kekerasan dan kekejaman pada kaum minoritas, khususnya kekerasan yang dilakukan seorang majikan kepada Pembantu rumah tangga atau PRT. Menurut Beliau, kebiasaan majikan laki-laki dalam memperlakukan PRT secara tidak senonoh mengakibatkan kecemburuan majikan perempuan yang berujung pada tindak kekerasan dan penyiksaan. Baca selanjutnya…

Menegaskan Langkah Gerakan Pemuda Muslim Dalam Kerangka Ilmiah dan Spirit kebangkitan IPTEK

November 16, 2009 2 komentar

foto sobat bolangIPTEK merupakan bagian tak terpisahkan dari mahasiswa. Ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi oleh kalangan intelektual (mahasiswa). Mahasiswa memiliki kemampuan lebih dari golongan masyarakat lain dalam menyerap ilmu, mempelajari, menerapkan dan menyebarluaskannya. Lihat dalam sejarah bahwa ahli-ahli di setiap bidang dulunya adalah mahasiswa. Pemimpin-pemimpin masyarakat dulunya adalah mahasiswa. Pasti mereka belajar menempa diri terlebih dahulu sebelum menjadi orang-orang penting.

Teknologi sendiri merupakan turunan dari ilmu pengetahuan. Dari sains teknologi dikembangkan untuk memudahkan penyelesaian suatu masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia. Dengan teknologi manusia dapat hidup dengan lebih mudah dari waktu ke waktu. Lihat teknologi informasi menjadikan setiap manusia dapat mendapatkan informasi tanpa perantara manusia langsung. Cukup dengan koneksi internet atau menonton televisi. Teknologi industri menjadikan segala kebutuhan sandang, pangan dan papan manusia dipenuhi secara mudah dan murah. Dan teknologi transportasi menjadikan kita mudah mengunjungi suatu tempat dalam waktu yang lebih singkat. Dulu orang untuk naik haji membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai makkah dari Indonesia. Namun sekarang cukup beberapa jam saja muslim Indonesia dapat menunaikan ibadah haji. Baca selanjutnya…

Indikasi Ponsel yang Disadap

Inilah Tanda-Tanda Ponsel Anda Disadap

Penyadapan bisa terjadi pada siapa saja. Kenali gejala-gejala yang sering terjadi.

Pemutaran rekaman percakapan antara Anggodo Widjojo dengan berbagai pihak telah mengungkap terjadinya rekayasa kriminalisasi terhadap Komisi Pemberantas Korupsi.

Bahkan, efek dari pemutaran rekaman percakapan hasil penyadapan itu jauh lebih besar. Rekaman ini telah memaksa Wakil Jaksa Agung AH Ritonga dan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji mengundurkan diri karena namanya banyak disebut-sebut dalam percakapan Anggodo.

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana sesungguhnya penyadapan itu dilakukan, dan bagaimana pula tanda-tanda ponsel disadap. Apalagi, penyadapan bukan hanya pada pejabat, tetapi bisa dilakukan terhadap siapa saja.

Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk mengidentifikasi apakah ponsel kita sedang disadap orang. Berikut ini beberapa cara simpel untuk mengenali gejala-gejalanya.

1. Bila baterai ponsel Anda menjadi lebih cepat terkuras padahal jarang digunakan, Anda harus curiga. Sebab, sebuah software mata-mata (spyware) yang sudah tertanam di ponsel, biasanya akan mengirimkan informasi-informasi kepada si penyadap. Hal ini menyebabkan baterai ponsel akan lebih cepat terkuras.

2. Walaupun Anda tak menggunakan ponsel tersebut, bila disentuh, ponsel ini terasa hangat karena walaupun terlihat tak digunakan, ponsel ini sebenarnya bekerja, kemungkinan karena proses penyadapan itu sendiri.

3. Saat digunakan untuk menelepon orang lain, Anda mendengar berbagai macam bunyi-bunyian, misalnya bunyi klik, derau, atau bunyi lainnya. Bahkan, kemungkinan volume ponsel juga bisa bisa berubah-rubah sendiri

4. Bila terdengar bunyi yang tak wajar dari ponsel saat sedang tak digunakan, kemungkinan ponsel Anda sedang bekerja, berfungsi sebagai receiver atau transmitter yang sedang menerima percakapan telepon di area sekitarnya.

5. Saat ponsel digunakan berkomunikasi, biasanya ponsel tiba-tiba mati, sinyal tiba-tiba turun atau suaranya mendengung.

6. Beritahu kepada orang yang Anda percaya bisa memegang rahasia, tentang informasi tertentu. Bila kemudian orang lain mengetahui informasi Anda itu, tandanya, ponsel Anda sudah disadap orang. (vivanews.com/ humasristek)

Kategori:Sosial Politik

Susahnya pergi ke Amrik: 4 Mahasiswa ITB gagal ikut HNMUN

Februari 11, 2009 3 komentar


Saya tergelitik membaca berita ini. Ternyata ganti presiden belum bisa menjadikan USA bersikap objektif dan adil. Seperti informasi yang saya peroleh dari koran republika Kedutaan Amerika, hingga saat ini ternyata masih phobi dengan nama orang Indonesia yang berbau Islam dan kearab-araban. 4 orang mahasiswa ITB (teman saya) yang sedianya akan berangkat sebagai delegasi pada acara Harvard National Model United Nation (HNMUN)ditahan visa-nya hanya gara-gara nama atau pun tampang mereka yang berbau Islam. Keempat orang yang gagal berangkat adalah Misykat Fahada Mochamad Nur karena nama, Demi Tristian ditolak karena dalam pasportnya belum pernah keluar negeri, Ferdinand Petrik Pratama dan Novi gagal pergi karena alasan lain bukan visa. Sementara, Tizar MK Bijaksana, awalnya menggunakan janggut tapi akhirnya bisa memperoleh visa dan pergi ke Boston setelah janggutnya dicukur.

Kata dosen pembimbing mereka, Pak Dermawan, Semua mahasiswa, untuk memperoleh visa hanya di wawancarai sekitar 5 menit. Namun, empat orang tidak memperoleh visa. Selain karena namanya berbau Islam, juga dilihat dari tampang dan ada mahasiswa yang berjanggut jadi susah memperoleh visa. Tapi alhamdulillah 2 orang akhwat yang berjilbab tidak dipermasalahkan. Mungkin mereka (kedubes AS) phobia dengan laki-laki yang lebih cenderung jadi teroris (^_^).

Amerika Serikat yang katanya mbahnya demokrasi malah mendiskrimasikan orang lain. Katanya memegang prinsip bahwa semua manusia memiliki kebebasan yang sama, tapi ternyata mereka malah membedakan orang-orang yang identitas muslimnya kuat. Berarti mereka melanggar prinsip yang telah mereka buat sendiri. Tapi anyway, mudah-mudahan dengan dilantiknya Obama, kasus seperti ini ngga bakalan muncul lagi meskipun kecil sekali kemungkinannya.

Saya khawatir justru kalo begini terus kejadiaannya, Amrik lama kelamaan akan terpuruk. Karena bisa jadi diantara orang-orang yang mereka diskreditkan, justru akan menjadi orang hebat di kemudian hari. Dan krisis ekonomi yang saat ini sedang mereka hadapi bisa jadi juga pertanda keterpurukan tersebut. Wallahu’alam bis showab.

Musibah dalam Kaderisasi Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB: Sebuah Refleksi

Februari 10, 2009 5 komentar


Saya menyebutnya sebagai musibah. Karena kejadian yang telah kita ketahui bersama ini, bukanlah suatu kejadian yang kecil melainkan kejadian yang merenggut nyawa teman kita. Dan tentu saja kehilangan nyawa ini (nyawa seorang muslim) lebih berat dibanding hilangnya bumi dan seisinya. Rasulullah S.A.W bersabda dalam riwayat hadistnya yang terkenal,”Hilangnya
Bumi seisinya adalah lebih ringan di sisi Allah S.W.T daripada hilangnya nyawa
seorang Muslim”.

Kronologis Kejadian

Berikut kronologis kejadian yang saya kutip dari bandung.detik.com
Berikut kronologi saat Dwi melakukan kegiatan orientasi mahasiswa baru yang dianggap ilegal oleh pihak ITB, yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) di Pager Wangi, Lembang, Sabtu 7 Februari, dan Minggu 8 Februari 2009.

Kronologi ini berdasarkan hasil penyelidikan oleh Komisi Penegakan Norma Kemahasiswaan ITB.

– Sabtu, sebanyak 82 mahasiswa angkatan 2007 dikumpulkan di Lebak Siliwangi. Lalu rombongan itu diberangkatkan pada pukul 12.00 WIB dengan menggunakan angkot menuju Desa Pager Wangi, Lembang.

– Sebelum berangkat, mahasiswa diperiksa kesehatannya oleh tim medis Atlas Medical Pioneer (AMP) FK-UNPAD. Saat diperiksa, para mahasiswa dinyatakan sehat.

– Angkot yang mengangkut rombongan tiba di Lembang. Selanjutnya, para mahasiswa itu berjalan kaki sejauh 1,2 kilometer menuju lapangan II di desa Pager Wangi. Namun, saat baru berjalan 400 meter, Dwi terjatuh. Saat itu Dwi ditemani dua rekannya. Kemudian Dwi disuruh minum. Akan tetapi, Dwi diajak kembali untuk meneruskan perjalanan hingga tiba di lapangan II. Dwi terlambat 10 menit dibandingkan rekan-rekannya.

– Pukul 14.00-14.40 WIB, rombongan melakukan makan siang dan sholat.

– Pukul 15.35-18.20 WIB, perjalanan dari lapangan II dilanjutkan menuju ke Pos 1. Dwi masih bisa berjalan walau agak kesulitan. Kala itu, Dwi berjalan sambil dipapah oleh dua orang melalui jalan yang menanjak sejauh 100 meter. Saat dipapah ini, Dwi merasakan sakit di bagian punggung. Singkatnya, Dwi mampu berjalan hingga Pos 6. Ketika tiba di Pos 6, aktivitas Dwi hanya duduk dan belajar berjalan.

– Pukul 18.20-18.45 WIB, Dwi dibawa menuju Pos Atlas Medical Pioneer (AMP) dengan dipapah. Dwi mengeluh sakit di bagian pinggang kiri. Tak lama setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke lokasi terakhir di SMA Mekar Wangi.

– Pukul 19.40-20.30 WIB, Dwi pingsan dan langsung mendapat perawatan dari tim medis AMP.

-Pukul 20.30-22.10 WIB, Dwi dalam kondisi tidak bisa berdiri. Kemudian tim medis AMC membalurkan pakai kayu putih. Dwi sempat dirangkul untuk berdiri dan duduk kembali.

– Pukul 00.00 WIB, Dwi diperiksa tim medis dan dinyatakan sehat kembali. Dwi sempat ditinggal sendirian. Lalu, panitia menanyakan kepada Dwi apakah ingin pulang. Dwi menjawab ingin pulang.

Minggu 8 Februari, dini hari :
-Pukul 01.30-02.20 WIB, Dwi sudah dalam kondisi parah. Akhirnya dirinya dibopong ke luar ruangan.

– Pukul 02.20-02.25 WIB, setelah menunggu tim medis dan kendaraan, kondisi Dwi tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Selain itu, Dwi mengeluarkan air liur dan tidak merespon cahaya. Tak lama, mobil datang. Tetapi Dwi tidak bisa masuk ke dalam mobil, karena Dwi memiliki badan yang besar. Saat diturunkan kembali, Dwi sempat buang air besar di celana dan tidak sadar. Tak itu saja, mulut Dwi pun dipenuhi busa kekuningan, nadi radialis dan karotis tidak teraba, tidak bernapas dan suhu dingin. Tim medis hanya memberikan nafas buatan dan pijat jantung.

– pukul 03.15 WIB, Dwi tiba di RS Borromeus dengan menggunakan mobil pick-up. Namun
sayang, Dwi sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Kaderisasi Kemahasiswaan ITB

Saya sebagai mahasiswa ITB terus terang kaget dengan kejadian ini. Terus terang kejadian ini adalah satu-satunya kejadian yang menimbulkan korban jiwa selama saya kuliah (tahun 2005) hingga sekarang. Memang dari pertama kali merasakan kaderisasi (OSKM 2005) saya sudah “mencium” stigma-stigma negatif terkait dengan kaderisasi kemahasiswaan di ITB. Informasi dari teman dan saudara yang saya dengar tentang kerasnya kaderisasi di ITB sudah diperoleh sejak awal masuk ITB. Tapi kenyataannya, hal tersebut tidak benar seutuhnya. OSKM 2005 yang saya ikuti sama sekali tidak merujuk pada perpeloncoan ataupun kekerasan. Seluruh kegiatan berorientasi pada pembelajaran. Kemudian kaderisasi berlanjut ke jenjang himpunan. Himpunan saya, HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) merupakan himpunan yang “damai”. Walaupun kaderisasinya cukup lama, sekitar 3 bulan, kami sama sekali tidak mendapatkan kekerasan sedikitpun. Justru saya merasakan pihak panitia dan program studi memberikan banyak manfaat dan fasilitas yang luar biasa bagus. Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman diberangkatkan ke depo pendidikan TNI di lembang, Bandung. Acara yang pada awalnya ditujukan untuk melantik kami, penuh dengan kegiatan yang bermanfaat. Outbond, simulasi, psikotest, acara keakraban dan lain-lain. Dan yang mengejutkan adalah kami malah dikasih makanan yang high quality ^_^. KFC, pepsi, nasi komplit, pokoknya empat sehatlah. Selidik punya selidik ternyata acara ini didukung penuh oleh program studi. Artinya seluruh dana ditanggung oleh Prodi kami. Yah, sedikit tradisi himpunan memang ada. Agak aneh memang, tapi it’s ok, no problemo. Yang jelas kami sedikitpun tidak mengalami kekerasan fisik seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Maksud kekerasan fisik seperti dipukul, dan sejenisnya.

Secara umum memang sejak tahun 2005, ITB dan seluruh civitas akademiknya sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam kaderisasi kemahasiswaan. Kekerasan yang menjadi tradisi di himpunan memang ada sejarah dan latar belakangnya. Kurang lebih budaya atau tradisi semacam ini dilahirkan sejak adanya pendudukan militer di kampus ITB. Jadi mungkin saja, kaderisasi yang keras semacam itu dilakukan untuk melatih fisik dan mental mahasiswa ITB dalam upaya menghadapi militer. Itu dulu, kemudian apakah masih bentuk kegiatan semacam itu masih perlu diberikan setelah era pendudukan militer berakhir? Nah tentu saja tidak. Tapi masalahnya lain, ternyata kegiatan semacam itu disinyalir mampu menyolidkan peserta kaderisasi (mahasiswa). Ada sindrom senasib sepenanggungan. Kegiatan semacam itu diharapkan menjadi kenangan indah ketika sudah lulus nantinya. Hal ini mungkin yang menjadi latar belakang teman-teman melakukannya.

Namun, semakin lama kegiatan semacam itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi di awal tahun 2000-an muncul kasus kekerasan IPDN yang menjadi buah bibir masyarakat. Hal inilah yang kemudian menggugah teman-teman mahasiswa untuk kembali mengkaji konsep kaderisasi mereka. Hal ini pula yang mendorong penghapusan kegiatan sejenis perpeloncoan di ITB sejak tahun 2005. Rektorat lebih ketat dalam mengawasi kegiatan kaderisasi ini. Puncaknya adalah pada tahun 2006. Dimana OSKM 2006 yang menjadi pintu gerbang kaderisasi kemahasiswaan ITB dilarang oleh pihak rektorat. Akibatnya, peserta OSKM 2006 ini terbilang sedikit. Hanya kurang lebih 100 mahasiswa saja. Padahal jumlah mahasiswa baru ITB sebanyak 3000-an. OSKM 2006 dinyatakan ilegal oleh rektorat. Sehingga mahasiswa baru ITB enggan untuk ikut dalam kegiatan ini. Saya merasakan betul peristiwa ini, karena turun langsung menjadi panitia OSKM 2006. Peristiwa ini kemudian yang mengharuskan seluruh organisasi kemahasiswaan ITB mengkaji ulang konsep kaderisasi mereka agar tidak dikatakan ilegal. Praktis, seluruh organisasi ini akan berhati-hati dalam mengkader mahasiswa agar tidak mengarah kepada perpeloncoan. Hal ini terbukti di lapangan. Tidak ada lagi kegiatan berisi perpeloncoan dalam kaderisasi kemahasiswaan ITB. Bahkan push-up sekalipun tidak ada atau kalaupun ada sangat sedikit yang menerapkan.

Kemudian ketika musibah yang menimpa teman-teman IMG ini muncul ke permukaan, muncul spekulasi atau gembar gembor bahwa kemahasiswaan ITB melakukan perpeloncoan. Saya katakan dan saya tegaskan bahwa hal tersebut salah besar. Seluruh himpunan, unit dan organisasi kemahasiswaan di ITB lainnya tidak melakukan perpeloncoan. Kami sudah mengonsep kegiatan kaderisasi ini dengan sebaik mungkin. Tujuan yang diharapkan tentunya adalah menghasilkan kader-kader mahasiswa yang memiliki nilai-nilai luhur sesuai dengan tujuan organisasi tersebut. Dan tentunya untuk mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan, Iron stock, dan penjaga nilai (guardian of value).

Evaluasi

Ini adalah musibah, sesuatu yang tidak kita duga. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah: 155-157

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

Seperti yang kita ketahui bahwa kematian hanya diketahui oleh Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Namun tentunya kita harus senantiasa bertindak hati-hati dan berlaku amanah dalam menjalankan suatu kegiatan. Apalagi kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang beresiko tinggi seperti halnya yang dilakukan oleh teman-teman IMG.
Saya sadar, pasti ada tujuan dari kegiatan yang membutuhkan fisik kuat dalam kaderisasi mahasiswa/himpunan. Terlebih bagi jurusan yang memang berorientasi lapangan seperti minyak, tambang, geologi dan geodesi.

Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang mengutamakan keselamatan atau safety. Saya belajar banyak dari Batalyon I/ITB Resimen Mahawarman (Menwa). Dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kami selalu diharuskan untuk mengutamakan safety atau keselamatan. Saya ingat betul ketika menjalani proses kaderisasi menwa ini. Kami (peserta) dicek kesehatan dan fisik secara cermat oleh pihak yang berkompeten. Pemeriksaan kesehatan yang saya alami ternyata merupakan standar khusus bagi anggota TNI. Tidak satu atau dua menit saja cek kesehatan tersebut. Mungkin bisa memakan waktu hingga 1 jam setiap orangnya. Belum lagi dengan cek fisik. Kami dites lari dan sebagainya untuk memantau apakah fisik kami layak atau tidak untuk mengikuti kegiatan. Bagaimana ketika di lapangan? Kaderisasi yang berat tersebut menjadi nyaman saya ikuti karena saya merasa didampingi oleh pelatih. Kondisi kesehatan menjadi pertanyaan utama dalam kegiatan. Seorang peserta kaderisasi wajib melapor jika kondisinya menurun untuk kemudian dicek langsung oleh tim medis TNI yang profesional. Pokoknya saya merasa aman.
Kemudian ketika giliran saya mengkader atau menjadi pelatih. Saya dan kawan-kawan menwa diharuskan untuk memperhatikan safety. Perencanaan yang matang diikuti dengan survey lapangan yang akurat diharapkan mampu menimalisir terjadinya kecelakaan. Dan ini betul-betul saya rasakan ketika memimpin kegiatan di lapangan. Justru saya yang akan kena hukuman jika tidak memperhatikan kondisi keselamatan peserta didik. Dan masih banyak lagi pengalaman yang saya peroleh berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan yang beresiko tinggi.

Dengan pengalaman yang saya miliki tersebut saya mencoba memberikan masukan bagi teman-teman yang ingin melaksanakan kegiatan lapangan yang sejenisnya:

1. Perhatikan selalu keselamatan. Keselamatan adalah nomor satu.

2. Cek kesehatan peserta dengan secermat mungkin. Terlebih bila pesertanya lebih dari 50 orang perhatikan betul masalah ini. Lakukan walaupun membutuhkan waktu yang lama. Libatkan pula tenaga profesional

3. Rencanakan sebaik dan selengkap mungkin kegiatan tersebut. Lakukan survey lapangan dengan teliti. Pastikan titik-titik kritis yang beresiko menimbulkan kecelakaan. Kemudian siapkan pula jalur evakuasi jika ada peserta yang mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan. Periksa puskesmas atau rumah sakit terdekat.

4. Siapkan mobil ambulans untuk mengantisipasi peserta yang mengalami gangguan kesehatan. Mobil ambulans tersebut harus mengikuti rombongan peserta selama kegiatan, terlebih lagi jika mengadakan kegiatan sejenis Long March.

5. Sediakan pula tenaga medis profesional dan perlengkapan P3K yang ikut mendampingi peserta selama kegiatan.

Kelima poin di atas merupakan bagian dari tindakan safety yang saya dapatkan selama berkegiatan di menwa ITB. Alhamdulillah, selama ini kami cukup berhasil melaksanakan kegiatan-kegiatan yang notabene-nya beresiko menengah ke atas (^_^). Oiya, ada satu fakta yang menarik. Jadi suatu waktu kami menerima anggota baru. Ada seorang peserta yang sangat bersemangat untuk bergabung bersama kami. Namun sayangnya mahasiswa tersebut ditolak oleh kami. Dengan alasan kondisi fisiknya tidak layak untuk mengikuti kegiatan kami. Peserta tersebut tetap “keukeuh”/kukuh dengan pendiriannya. Dia memaksa-maksa kami agar tetap dibolehkan mengikuti kaderisasi. Sampai akhirnya komandan kami turun langsung dan memutuskan untuk tidak menerima si calon peserta ini. Suatu keputusan bijak yang sangat saya apresiasi hingga detik ini.

Finally, saya ikut mendoakan kawan kita, almarhum Dwiyanto Wisnugroho. Semoga Allah SWT mengampuni, mengasihi dan memaafkan segala kesalahannya. Amin. Dan semoga dengan adanya musibah ini, bukan malah menurunkan aktivitas kemahasiswaan kita, melainkan musibah ini menjadi cambuk bagi kita (mahasiswa) untuk meningkatkan prestasi dan kontribusi kemahasiswaan. Hidup Mahasiswa!

UU BHP: apakah masih perlu kita kritisi? (1)

Januari 28, 2009 2 komentar

Rabu kemarin (28 Januari 2009) ada opini menarik di harian pikiran rakyat. Opini tersebut berisi tentang kontroversi UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang telah disahkan 17 Desember 2008 yang lalu. Saya tertarik dengan isi bahasannya karena alhamdulillah saya sudah lebih paham mengenai permasalahan ini.

Masih melekat di dalam pikiran saya penjelasan Dr. Irwan Prayitno (Ketua Komisi X DPR RI) dan Prof. Eko Prasojo (Guru Besar UI dan Anggota MWA UI) ketika mereka berdua berbicara di suatu seminar di jakarta. Ternyata selama ini apa yang diperjuangkan oleh kalangan mahasiswa ketika pengesahan UU BHP tidak didasari pemahaman yang benar.
Saya mengambil contoh dari arsip BHP: skenario liberalisasi pendidikan negeri ini (kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dengan dunia pendidikan indonesia) yang dikeluarkan oleh KM-ITB. Poin-poin yang dibahas pada kajian tersebut ternyata tidak merujuk pada UU BHP yang baru disahkan DPR. Poin-poin tersebut antara lain:

1. “Pada pasal tersebut (pasal 41) terlihat bahwa baik pada pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi, tetap terdapat porsi-porsi pembiayaan yang tidak ditanggung oleh pemerintah…”, “dari sinilah terbuka beberapa mekanisme usaha bagi BHP untuk memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya. Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya. Hal ini tentunya membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi pendidikan…”

Mari kita tinjau ulang poin pembahasan di atas dengan merujuk pada pasal 41 UU BHP. Berikut saya tulis ulang pasal 41 UU BHP

Pasal 41
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik, berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memberikan bantuan sumberdaya pendidikan kepada badan hukum pendidikan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(4) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung paling sedikit 1/3 (sepertiga) biaya operasional pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(5) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(6) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung paling sedikit ½ (seperdua) biaya operasional, pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan.
(7) Peserta didik yang ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan harus menanggung biaya tersebut sesuai dengan kemampuan peserta didik, orang tua, atau pihak yang bertanggung jawab membiayainya.
(8) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan menengah berstandar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan pada BHPP atau BHPPD paling banyak 1/3 (sepertiga) dari biaya operasional.
(9) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan tinggi berstandar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan pada BHPP paling banyak 1/3 (sepertiga) dari biaya operasional.
(10) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya pada badan hukum pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jika diringkas isi dari pasal di atas dalam bentuk tabel akan tampak sebagai berikut:

Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa porsi kewajiban peserta didik (siswa dan mahasiswa) hanya diberikan pada pendidikan menengah dan tinggi. Besarnya pun dibatasi yaitu maksimal 1/3 dari biaya operasional. Menurut Prof. Eko Prasojo sebagai Anggota MWA Universitas Indonesia, jika dihitung-hitung kewajiban mahasiswa UI untuk membayar SPP setiap semesternya paling mahal hanya berkisar 900.000 ribu saja. Besar biaya ini terbilang kecil, apalagi bagi mahasiswa dari kalangan menengah ke atas.

Gambaran porsi kewajiban berbagai elemen dalam BHP ini ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Kemudian terkait dengan adanya peluang bagi institusi pendidikan untuk melakukan usaha memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya (sebesar 17%). Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya. Yang dapat membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi pendidikan, dapat dibantah dengan pasal 37 ayat 6 yang berbunyi:

Kekayaan dan pendapatan badan hukum pendidikan digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk:
a. kepentingan peserta didik dalam proses pembelajaran,
b. pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam hal badan hukum pendidikan memiliki satuan pendidikan tinggi,
c. peningkatan pelayanan pendidikan, dan
d. penggunaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Seluruh keuntungan usaha yang dilakukan oleh BHP akan digunakan untuk kepentingan pendidikan. jadi orientasinya berbeda dengan perusahaan yang mengutamakan profit. orientasi usaha yang dilakukan BHP adalah nirlaba/nonprofit.

Kita juga bisa merujuk pada pasal 43 terkait dengan badan usaha ini.

Pasal 43
(1) Badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan investasi dengan mendirikan badan usaha berbadan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk memenuhi pendanaan pendidikan.
(2) Investasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 ayat (3) dan investasi tambahan setiap tahunnya paling banyak 10% (sepuluh persen) dari volume pendapatan dalam anggaran tahunan badan hukum pendidikan.
(3) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola secara profesional oleh dewan komisaris, dewan direksi, beserta seluruh jajaran karyawan badan usaha yang tidak berasal dari badan hukum pendidikan.
(4) Seluruh deviden yang diperoleh dari badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah dikurangi pajak penghasilan yang bersangkutan digunakan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (6).
(5) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimanfaatkan untuk sarana pembelajaran peserta didik.

.

Secara umum, kita perlu membahas dan meninjau ulang pernyataan sikap yang dilakukan oleh para mahasiswa. Sebelum memberikan sikap, kita (mahasiswa) harus dengan cermat mempelajari UU BHP ini. Jangan sampai kejadian-kejadian di makassar dan kota besar lainnya terjadi kembali. Dimana mahasiswa melakukan tindakan anarkis. padahal mereka belum membaca UU ini dengan seksama.

Saya masih punya bahasan lain terkait dengan UU ini. Semoga bisa nulis lagi 🙂

Berikut saya lampirkan pula arsip-arsip yang berkaitan dengan pembahasan ini

Draft UU BHP
BHP: Skenario Liberalisasi…KM-ITB
Pernyataan Sikap KM-ITB

Launching IVR Labs

Ini salah satu pengalaman berharga saya di liburan kali ini. yakni ikut hadir pada launching IVR Labs. Sebagaimana yang dikutip dari blog MITI-M launching ini dihadiri oleh lebih dari 100 perwakilan MITI-Mahasiswa dari 45 kampus dari 20 provinsi di seluruh Indonesia. Launchingnya sendiri dilakukan oleh Ketua umum MITI, DR. Warsito P. Taruno. berikut foto-fotonya..

satu lagi..

pertanyaannya buat foto itu: saya dimana ya? 🙂

%d blogger menyukai ini: